Oleh :
Ahmad Fikri, Berita99
Al Qur’an
selalu merujuk kepada (banyak) alam
semesta atau ‘alamin, di mana sains saat ini baru menghasilkan satu hipotesis
dan model tentang multiple universes. Seruan al-Qur’an tentang kebenaran sangat
universal – timeless and spaceless – dialamatkan kepada seluruh manusia dan
golongan jin. Kadang-kadang al-Qur’an menyebutkan makhluk yang ada di (banyak)
bumi dan di (banyak) langit-yang bermakna segenap makhluk yang telah diketahui
maupun yang belum diketahui.
Barangkali
ia adalah satu-satunya kitab suci yang seruannya ditujukan kepada manusia dan
makhluk alam gaib (jin). Kritikus al-Qur’an mengatakan, “Mengapa tidak sekalian
saja dialamatkan kepada iblis, atau evil?” Kritikus itu lupa atau tidak
mengetahui bahwa iblis dan setan adalah salah satu ras dari golongan jin.
Al-Qur’an Adalah Kebijakan Abadi
Setiap
ayat, bahkan jumlah ayat atau kata, dan nama surat merupakan kebijakan abadi.
Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu
pengetahuan manusia yang membacanya.
Kita
lihat, misalnya, salah satu ayat dari Surat ar-Rahman, yang membahas tentang
air;
“Dia membiarkan kedua lautan mengalir yang
keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh
masing-masing”. (Qs Ar-Rahman : 19-20)
Sedikit
penafsir yang mengartikan ini adalah tanah genting yang tidak terlihat.
Penafsir lainnya menyebutkan bahwa air tawar di sungai dan air asin di lautan
bertemu namun tidak saling melampaui karena perbedaan kepekatannya. Sampai di
sini terjemahan belum bermasalah. Keterangan lebih lanjut:
Fenomena
menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves
Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar, ditemukan
bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari
Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang
berbeda menghasilkan “dam” yang tidak terlihat.
Air
Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat
Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang
berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air
Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.
Melanjutkan
QS. Ar Rahman 19-20 diatas tadi, berikutnya adalah fenomena menarik tentang
pembentukan mutiara.
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan”
(Qs Ar-Rahman : 22)
Para
penerjemah dua puluh tahun yang lalu, dengan satu atau dua pengecualian,
menerjemahkan “marjan” dengan “batu koral”. Padahal mayoritas ahli tafsir
mengartikan dengan marjan, yang mengandung mutiara kecil yang lebih berkilau.
Tetapi ahli tafsir modern, misalnya Sayyid Quthb, berbicara tentang “batu
koral”. Disadari bahwa banyak ahli tafsir yang menghadapi persoalan dengan ayat
ini.
Menurut
pengetahuan mereka pada waktu itu, mutiara hanya datang dari air laut. Padahal
ayat ini barangkali menjelaskan bahwa mutiara bisa terbentuk baik di dalam air
laut maupun air tawar. Bagaimana bisa? Abu Ubaidah, seorang penulis terdahulu,
sangat yakin bahwa mutiara hanya datang dari air laut, sehingga ia mencoba
berkelit untuk menafsirkan ayat tersebut dengan sesuatu yang lain. Maka ia
menulis, “Mutiara hanya datang dari salah satu nya”.
Tetapi
kini telah diketahui bahwa mutiara bisa terbentuk di dalam air tawar.
Encyclopedia Britannica, Micropaedia 1977, menulis bahwa di sungai-sungai rimba
Bavaria (Eropa) mutiara dibudidayakan. Bahkan budidaya mutiara air tawar di
Cina telah dikenal sejak sebelum tahun 1000 SM.
Dengan
demikian, pernyataan al-Qur’an dalam surat ini sesuai dengan arti harfiahnya,
tanpa memerlukan penafsiran yang dipaksakan.
Apakah
pembaca akan berhenti sampai di sini?
Kita
beralih ke ayat al-Qur’an yang pembahasannya memerlukan pengetahuan
astrofisika, gabungan astronomi, fisika dan matematika, yaitu Surat an-Nur atau
yang berarti cahaya.
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan
bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus
(misykat), yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca
itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
sebelah timur (sesuatu) dan dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang
minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya
di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang
Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs An-Nur : 35).
Esensi
ayat ini adalah bahwa Tuhan adalah (satu-satunya) pemberi cahaya di alam
semesta tanpa sentuhan api. Namun menyangkut perumpamaan, mufasir klasik
menghadapi kesulitan untuk menjelaskan lebih rinci.
Dengan
beberapa pengecualian mereka akan menjelaskan bahwa misykat , atau suatu lubang
yang tidak dapat ditembus, adalah lubang di rumah-rumah untuk tempat lampu
obor, yang ada di dinding rumah. Sedangkan pohon (zaitun) yang dimaksud adalah
pohon (zaitun) yang tumbuh di bukit-bukit, sehingga sinar matahari dapat
menyinari, baik pada saat matahari terbit maupun matahari terbenam.
Mufasir
modern, seperti Malik Ben Nabi, menjelaskan bahwa misykat adalah lampu bohlam:
Pohon
yang dimaksud adalah kawat wolfram yang berpijar karena efek listrik tanpa
disentuh api, dibungkus gelas kaca, untuk memantulkan seluruh sinarnya ke
segala arah sehingga dapat menerangi seluruh ruangan. Lampu bohlam adalah sekat
yang tak dapat ditembus, karena hampa udara, tidak ada oksigen di sana.
Tetapi,
dalam studi yang lebih mendalam tentang cahaya di langit oleh para
astrofisikawan, misalnya Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory
of Everything, perumpamaan ayat tersebut lebih mendekati kepada fenomena quasar
dan gravitasi efek lensa yang menghasilkan cahaya di atas cahaya. Quasar atau
Quasi Stellar adalah objek di langit yang ditemukan pertama kalinya pada tahun
1963. Mereka mewakili objek yang paling terang di alam semesta, jauh lebih
terang dari cahaya matahari atau bintang.
Para
astronom menemukan bahwa objek “seperti bintang’ ini terletak miliaran tahun
cahaya dari bumi. Objek ini tentunya mempunyai energi yang besarnya sangat luar
biasa supaya tetap terlihat dari sini. Energi mereka berasal dari “pusat lubang
hitam yang sangat masif”. Karakter pertama dari ayat ini yaitu misykat adalah
“lubang hitam”, sedangkan karakter kedua yaitu “pelita dalam kaca” adalah
galaksi yang menghasilkan efek gravitasi lensa seperti quasar (pelita) yang
terbungkus oleh kaca (gelas). Coba simak keterangan quasar oleh astronom NASA.
“Efek
gravitasi pada galaksi, quasar yang jauh, serupa dengan efek lensa sebuah gelas
minum yang memantulkan sinar lampu jalan yang menciptakan berbagai image
(lapisan cahaya atas cahaya)”
Energi
quasar yang berasal (dicatu) dari lubang hitam, terjadi ketika “bintang-bintang
dan gas” dari galaksi terhisap di dalamnya. Karakter lainnya yang disebut
“pohon” oleh al-Qur’an adalah sebutan yang tidak lazim oleh para astronom yang
menggambarkan galaksi sebagai “pohon-pohon” yang terdiri dari bintang-bintang.
Lihat saja istilah diagram Hertzprung-Russel, dalam buku Timothy Ferris, The
Whole Shebang, 1997.
Barangkali,
karakter lainnya yang menarik dari ayat di atas adalah pernyataan “diterangi
tanpa tersentuh oleh api”, suatu fenomena fusi nuklir yang menghasilkan cahaya
yang sangat terang, di mana di ruang angkasa nyaris tidak ada oksigen untuk
pembakaran. Bintang-bintang memulai hidupnya dengan unsur kimia yang paling
ringan, yakni hidrogen. Gas berkontraksi, karena gravitasi, memanas; atom
hidrogen bertumbukan dan membentuk helium, unsur yang lebih berat, ketika
mengeluarkan energinya. Energi inilah yang membuat objek “bintang- bintang”
bersinar tanpa “disentuh api’, energi ini juga yang memelihara keseimbangan
posisi bintang-bintang di alam semesta.
Sepanjang
pengetahuan manusia yang ada sekarang, fenomena quasar inilah yang paling tepat
untuk menggambarkan ayat di atas. Terlebih lagi perumpamaan dalam ayat
tersebut: “seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara”. Bahkan aslinya
lebih terang dari sinar bintang, dan memang seperti “mutiara” bila kita lihat
dari foto-foto NASA yang ada, gemerlapan, sangat menawan.
Dengan
demikian, terjemahan bebas ayat 35 Surat an-Nur dari sisi sains adalah:
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan
bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang (hitam) yang tak
tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (quasar). Pelita itu di
dalam kaca (dan) kaca (efek gravitasi lensa dari galaksi) itu seakan- akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon (galaksi
yang dicatu oleh lubang hitam) yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon (galaksi)
yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat
(nya), yang minyaknya (fusi nuklir) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak
disentuh api. Cahaya di atas cahaya (efek gravitasi lensa), Allah membimbing
kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Posting Komentar