Assalamu'alaikum...

Makalah Non Test



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Evaluasi sangat diperlukan dalam pendidikan formal, dalam hal ini sekolah atau madrasah. Khususnya evaluasi mengenai hasil belajar. Hal ini dimaksudkan untuk melihat tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam proses belajar.
Ada dua teknik yang digunakan untuk melakukan evaluasi hasil belajar yaitu teknik tes dan non tes. Untuk teeknik tes telah dijelaskan pada bab yang telah lalu. Maka, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai instrument non-tes dan bentuk-bentuknya.
B.      Rumusan Masalah
1.       Apakah yang dimaksud dengan evaluasi non tes?
2.       Apakah urgensi dari evaluasi non tes?
3.       Bagaimanakah pengembangan instrumen evaluasi non tes?
4.       Apa saja jenis-jenis dari evaluasi non tes?
5.       Bagaimana contoh-contoh instrumen non tes?

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Non Tes
Istilah evaluasi memiliki pengertian yaitu suatu proses untuk memperoleh kualitas tertentu terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti, istilah lain yang memiliki makna yang hampir sama dengan evaluasi adalah penilaian dan pengukuran. Secara sederhana penilaian dan pengukuran meruapakan komponen yang ada di dalam ruang lingkup evaluasi, dimana penilaian merupakan proses berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi, sedangkan pengukuran lebih khusus mengumpulkan informasi yang bersifat kuantitatif atas sesuatu.[1]
Kegiatan mengukur atau melakukan pengukuran adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar.
Teknik evaluasi disebut juga instrumen atau alat pengumpul data hasil belajar, tidak hanya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai bentuk atau variasinya, akan tetapi masih ada teknik lainya yang bisa digunakan, yaitu teknik non tes.[2]
Dilihat dari kata yang menyusunya, maka non tes dapat kita artikan sebagai teknik  penilaian yang dilakukan tanpa menggunakan tes. Sehingga teknik ini dilakukan lewat pengamatan secara teliti dan tanpa menguji peserta didik. Non tes biasanya dilakukan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skill, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari apa yang diketahui atau dipahaminya. Dengan kata lain, instrument ini berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pada pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati dengan panca indra. [3]
Menurut Anas Sudjono, Evaluasi non-tes merupakan penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dilakukan dengan menggunakan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire) dan memeriksa atau meniliti dokumen-dokumen (documentary analysis).[4]
Penilaian non tes adalah penilaian pengamatan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang dapat diperbuat atau dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan dengan apa yang diketahui atau dipahaminya. Dengan kata lain penilaian non test behubungan dengan penampilan yang dapat diamati dibandingkan dengan pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati oleh indera.
Dapat disimpulkan bahwa evaluasi non tes adalah penilaian/pengukuran terhadap kemampuan siswa yang dilakukan dengan pengamatan dan biasanya dilakukan untuk mengukur soft skill siswa.
B.      Urgensi Evaluasi Non Tes
Secara umum, tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Secara khusus, tujuan evaluasi adalah untuk :
(a)  Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan
(b)  Mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses belajar, sehingga dapat dilakukan diagnosis dan kemungkinan memberikan remedial teaching,
(c)  Mengetahui efisiensi dan efektifitas strategi pembelajaran yang digunakan guru, baik yang menyangkut metode, media maupun sumber-sumber belajar.
       Sementara fungsi evaluasi adalah sebagai berikut:
 (a) secara psikologis, peserta didik perlu mengetahui prestasi belajarnya, sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan,
 (b) secara sosiologis, untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalam arti dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan seluruh lapisan masyarakat dengan segala karakteristiknya,
(c) secara didaktis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu  sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing,
 (d) untuk mengetahui kedudukan peserta didik diantara teman-temannya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang atau kurang,
(e) untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh program pendidikannya,
(f) untuk membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan maupun kenaikan tingkat/kelas,
 (g) secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada pemerintah, pimpinan/kepala sekolah, guru/instruktur, termasuk peserta didik itu sendiri.
Fungsi evaluasi dapat dilihat berdasarkan jenis evaluasi itu sendiri, yaitu :
 (a) formatif, yaitu memberikan feed back bagi guru/instruktur sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial bagi peserta didik yang belum menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari,
 (b) sumatif, yaitu mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran, menentukan angka (nilai) sebagai bahan keputusan kenaikan kelas dan laporan perkembangan belajar, serta dapat meningkatkan motivasi belajar,
 (c) diagnostik, yaitu dapat mengetahui latar belakang peserta didik (psikologis, fisik, dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar,
(d) seleksi dan penempatan, yaitu hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi dan menempatkan peserta didik sesuai dengan minat dan kemampuannya.[5]
Dari sini dapat dipahami bahwa teknik evaluasi jenis ini tidak dapat dikesampingkan, karena memang tidak semua materi pembelajaran dengan segala karakteristiknya dapat dievaluasi dalam bentuk tes. Karena hal tersebut hanyak akan menyentuh ranah kognitif saja. Oleh karenanya kedua teknik evaluasi tersebut penting dan saling melengkapi satu sama lain.

C.      Pengembangan Instrumen pada Penilaian Berbentuk Non Tes
Pengembangan Instrumen Penilaian yang dikembangkan perlu memperhatikan hal-hal berikut: 
-       Berhubungan dengan kondisi pembelajaran di kelas dan/atau di luar kelas.
-       Relevan dengan proses pembelajaran, materi, kompetensi dan kegiatan pembelajaran.
-       Menuntut kemampuan berpikir berjenjang, berkesinambungan, dan bermakna dengan mengacu pada aspek berpikir Taksonomi Bloom (aspek kognitif, afektif dan psikomotor).
-       Mengembangkan kemampuan berpikir kritis seperti: mendeskripsikan, menganalisis, menarik kesimpulan, menilai, melakukan penelitian, memecahkan masalah.
-       Mengukur berbagai kemampuan yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik
-        mengikuti kaidah penulisan soal.
Langkah-langkah dalam pengembangan instrumen non tes (dilihat dari afektif dan psikomotor):[6]
-          Menentukan spesifikasi instrumen.
-          Menulis instrumen.
-          Menentukan skala pengukuran.
-          Menentukan penskoran.
-          Menelaah instrument.
-          Melakukan uji coba.
-          Menganalisis hasil uji coba.
-          Melaksanakan pengukuran.
-          Menafsirkan hasil pengukuran.

D.      Jenis-Jenis Non Tes
Para ahli berpendapat bahwa dalam mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar, kita harus menggunakan teknik tes dan non-tes, sebab hasil-hasil pelajaran bersifat aneka ragam. Hasil pelajaran dapat berupa pengetahuan teoritis, keterampilan dan sikap. Pengetahuan teoritis dapat diukur dengan menggunakan teknik tes. Keterampilan dapat diukur dengan menggunakan tes perbuatan. Adapun perubahan sikap dan petumbuhan peserta didik dalam psikologi hanya dapat diukur dengan teknik non-tes, misalnya observasi, wawancara, skala sikap, angket, check list, rating scale dan lain sebagainya.
Anas Sudijono membagi teknik evaluasi non-tes ini hanya kepada 4 macam saja, yaitu: pengamatan (observation), wawancara (interview), angket (questioner), dan pemeriksaan dokumen (documentary analysis). Sedangkan Zainal Arifin membagi teknik evaluasi non-tes kepada 10 macam, yaitu: observasi (observation), wawancara (interview), skala sikap (attitude scale), daftar cek (check list), skala penilaian, angket (questioner), studi kasus (case study), catatan insidental (anecdotal records), sosiometri, inventori kepribadian.[7]
Namun perbedaan tersebut sesungguhnya terletak pada perbedaan penggunaan istilah dan kebahasaan saja, bukan pada substansi. Karena apa yang diuraikan oleh Zainal Arifin secara terurai dan terinci ditemukan juga dalam pembahasan empat bentuk pembahasan teknik evaluasi non-tes yang dikemukakanoleh Anas Sudijono. Oleh karenanya, di sini penulis hanya ingin membatasi evaluasi non-tes ini hanya kepada beberapa bentuk yang sering digunakan dalam mengevaluasi hasil pembelajaran. Bentuk-bentuk non tes tersebut sebagai berikut:
1.       Pengamatan (observation)
Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sebagai sasaran pengamatan. Alat yang digunakan dalam observasi disebut pedoman observasi.[8]
a.       Tujuan utama observasi antara lain :
1)      Mengumpulkan data dan inforamsi mengenai suatu fenomena, baik yang berupa peristiwa maupun tindakan, baik dalam situasi yang sesungguhnya maupun dalam situasi buatan.
2)      Mengukur perilaku kelas (baik perilaku guru maupun peserta didik), interaksi antara peserta didik dan guru, dan faktor-faktor yang dapat diamati lainnya, terutama kecakapan sosial (social skill).
3)      Menilai tingkah laku individu atau proses yang tejadi dalam situasi sebenarnya maupun situasi yang sengaja dibuat.
Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik pada waktu belajar belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Selain itu, observasi juga dapat digunakan untuk menilai penampilan guru dalam mengajar, suasana kelas, hubungan sosial sesama, hubungan sosial sesama peserta  didik, hubungan guru dengan peserta didik, dan perilaku sosial lainnya
b.      Karakteristik Observasi
1) Mempunyai arah dan tujuan yang jelas.
2)  Bersifat ilmiah, yaitu dilakukan secara sistematis, logis, kritis, objektif,dan rasional.
3) Terdapat berbagai aspek yang akan diobservasi.
4) Praktis penggunaannya.
c.       Pembagian Observasi
Jika kita melihat dari dari kerangka kerjanya, observasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1)         Observasi berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan luas materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas dan tegas.
2)         Observasi tak berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai obeserver tidak     dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti. Kegiatan obeservasi hanya dibatasi oleh tujuan observasi itu sendiri.
Apabila dilihat dari teknis pelaksaannya, observasi dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu:
1)   Observasi langsung, observasi yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diselidiki.
2)   Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui perantara, baik teknik maupun alat tertentu.
3)       Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti.
d.      Kelebihan Dan Kekurangan Observasi
Menurut Arifin (2009) Kelebihan dan kekurangan observasi antara lain:
Kelebihan:
1)      Observasi merupakan alat untuk mengamati berbagai macam fenomena.
2)      Observasi cocok untuk mengamati perilaku peserta didik maupun guru yang sedang melakukan suatu kegiatan.
3)      Banyak hal yang tidak dapat diukur dengan tes, tetapi lebih tepat dengan observasi.
4)      Tidak terikat dengan laporan pribadi.
Kekurangan:
1)      Seringkali pelaksanaan observasi terganggu oleh keadaan cuaca, bahkan ada kesan yang kurang menyenangkan dari observer ataupun observasi itu sendiri.
2)      Biasanya masalah pribadi sulit diamati.
3)      Jika yang diamati memakan waktu lama, maka observer sering menjadi jenuh.
e.       Pedoman penyusunan observasi
Adapaun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi menurut Arifin  adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan observasi
2. Membuat lay-out atau kisi-kisi observasi
3. Menyusun pedoman observasi
4. Menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi, baik yang berkenaan proses belajar peserta didik dan kepribadiaanya maupun penampilan guru dalam pembelajaran
5. Melakukan uji coba pedoman observasi untuk melihat kelemahan-kelemahan pedoman observasi
6. Merefisi pedoman obsevasi berdasarkan hasil uji coba
7. Melaksanakan observasi pada saat kegiatan berlangsung
8. Mengolah dan menafsirkan hasil observasi[9]
2.       Wawancara (interview)
Menurut Syaiful Bahri, wawancara adalah komunikasi langsung antara yang mewancarai dan yang diwawancarai.[10] Sedangkan menurut Zainal Arifin, wawancara merupakan salah satu bentuk alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik. Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai tanpa melalui perantara. Sedangkan wawancara tidak langsung adalah wawancara yang dilakukan melalui perantaraan orang lain ataupun media.[11]
Dari pengertian tersebut kita dapat simpulkan bahwa wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (Tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung (menggunakan alat komunikasi).
Ada dua jenis wawancara yang dapat dipergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
a.       Wawancara terpimpin (guided interview), yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (structured interview) atau wawancara sistematis (systematic interview), yaitu wawancara yang dilakukan oleh evaluator dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu. Jadi, dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah disediakan oleh evaluator.
b.      Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview), yang sering dikenal dengan istlah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non-systematic interview) atau wawancara bebas, diamana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh evaluator. Dalam wawancara bebas, pewancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu, mereka dengan bebas mengemukakan jawabannya. Hanya saja pada saat menganilis dan menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini evaluator akan dihadapkan kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka ragam. Mengingat bahwa daya ingat manusia itu dibatasi ruang dan waktu, maka sebaiknya hasil wawancara itu dicatat seketika.[12]
Ada 3 tujuan dalam melaksanakan wawancara yakni :
1) Untuk memperoleh informasi secara langsung guna menjelaskan suatu hal atau situasi dan kondisi tertentu.
2) Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah.
3) Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orang tertentu.
Langkah-langkah untuk melakukan wawancara adalah sebagai berikut:
a.       Merumuskan tujuan wawancara
b.      Membuat pedoman wawancara
c.       Menyususn pertanyaan yang sesuai dengan data yang diperlukan.
d.      Melakukan uji coba
e.       Melaksanakan wawancara
Sedangkan kelemahan dan kelebihan jenis instrument wawancara adalah sebagai berikut:
a.       Kelemahan:
1)      Jika subjek yang ingin diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2)      Terkadang wawancara berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3)      Adanya sikap yang kurang baik dari responden maupun penanya.
b.      Kelebihan:
1)      Dapat memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2)      Dapat memperbaiki proses dan hasil belajar
3)      Pelaksanaannya lebih fleksibel, dinamis dan personal.[13]

3.       Angket (questioner)
Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akandiukur (responden). Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.
Angket sebagai alat penilaian nontes dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. Dilaksanakan secara langsung apabila angket itu diberikan kepada anak yang dinilaiatau dimintai keterangan sedangkan dilaksanakan secara tidak langsung apabila nagket itudiberikan kepada orang untuk dimintai keterangan tentang keadaan orang lain. Misalnyadiberikan kepada orangtuanya, atau diberikan kepada temannya.Angket adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yangmemberikan jawaban, angket dibagi menjadi angket langsung angket tidak langsung. Angketlangsung adalah angket yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya.Sedangkan angket tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekatdan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalahseseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya.
Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka angket terbagi menjadi angket tertutup danangket terbuka. Angket tertutup adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yangia anggap sesuai. Sedangkan angket terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apayang ia ketahui. 
Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara, dimana penilai (evaluator) berhadapan secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pnegumpulan data sebagai bahan penilai hasil belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja, jawaban yang diberikan seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebanarnya.
Pada umunya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganilisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Disamping itu, juga dimaksudkan untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan progam pembelajaran.
Data yang dapat dihimpun melalui kuesioner, misalnya adalah data yang berkenaan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para peserta didik dalam proses pembelajaran, cara belajar, fasilitas belajar, bimbingan belajar, motivasi dan minat belajar, sikap belajarnya, sikap terhadap mata pelajaran tertentu, pandangan siswa terhadap mata pelajaran tertentu, pandangan siswa terhadap proses pembelajaran dan sikap mereka terhadap guru.
Kuesioner sering digunakan untuk menilai hasil belajar ranah afektif. Ia dapat berupa kuesioner bentuk pilihan ganda (mutiple choice item) dan dapat pula berbentuk skala sikap. Skala yang mengukur sikap, sangat terkenal dan sering digunakan untuk mengungkap sikap peserta didik adalah skala likert.
Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik sendiri, dimana data yang telah diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut dari peserta didik.

4.       Pemeriksaan dokumen (documentary analysis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non-tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen, misalnya: dokumen yang menganut informasi mengenai riwayat hidup (auto biografi), seperti kapan kapan dan dimana peserta didik dilahirkan, agama yang dianut, kedudukan anak didalam keluarga dan sebagainya. Selain itu juga dokumen yang memuat informasi tentang orang tua peserta didik, dokumen yang memuat tentang orang tua peserta didik, dokumen yang memuat tentang lingkungan non-sosial, seperti kondisi bangunan rumah, ruang belajar, lampu penerangan dan sebagainya.
Beberapa informasi, baik mengenai peserta didik, orang tua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkapbagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.[14]
5.       Studi Kasus (case study)
Studi kasus adalah mempelajari individu dalam proses tertentu secara terus menerus untuk melihat perkembangannya. Misalnya peserta didik yang sangat cerdas, sangat lamban, sangat rajin, sangat nakal, atau kesulitan dalam belajar. Untuk itu guru menjawab tiga percayaan inti dalam studi kasus, yaitu:
1)      Mengapa kasus tersebut bisa terjadi?
2)      Apa yang dilakukan oleh seseorang dalam kasus tersebut?
3)      Bagaimana pengaruh tingkah laku seseorang terhadap lingkungan?
Studi kasus sering digunakan dalam evaluasi, bimbingan, dan penelitian. Studi ini menyangkut integrasi dan penggunaan data yang komprehensif tentang peserta didik sebagai suatu dasar untuk melakukan diagnosis dan mengartikan tingkah laku peserta didik tersebut. Dalam melakukan studi kasus, guru harus terlebih dahulu mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai teknik dan alat pengumpul data. Salah satu alat yang digunakan adalah  depth-interview  , yaitu melakukan wawancara secara mendalam, jenis data yang diperlukan antara lain, latar belakang kehidupan, latar belakang keluarga, kesanggupan dan kebutuhan, perkembangan kesehatan, dan sebagainya.
Seperti halnya alat evaluasi yang lain, studi kasus juga mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah dapat mempelajari seseorang secara mendalam dan komprehensif, sehingga karakternya dapat diketahui  selengkap-lengkapnya. Sedangkan kelemahannya adalah hasil studi kasus tidak dapat digeneralisasikan.[15]
6.       Skala Sikap (Attitude Scale)
Sikap merupakan suatu kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu. Sikap mengacu kepada perbuatan atau perilaku seseorang, tetapi tidak berarti semua perbuatan identik dengan sikap. Perbuatan seseorang mungkin saja bertentangan dengan sikapnya.
Dalam mengukur sikap, guru hendaknya memperhatikan aspek kognisi, afeksi dan juga konasi. Disamping itu, guru juga harus memilih salah satu model skala sikap, seperti dengan menggunakan bilangan, frekuensi, kode bilangan atau huruf, istilah-istilah yang bersifat kualitatif, ataupun yang menunjukkan status/kedudukan.
Bentuk skala yang dapat di pergunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:[16]
1.Skala Likert
Skala likert ialah skala yang dapat di pergunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok  orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya, subjek merespon dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan, misalnya:
Setuju – tidak setuju
Suka – tak suka
Menerima –menolak
Model skala ini banyak digunakan dalam kegiatan penelitian, karena lebih mudah mengembangkannya dan interval skalanya sama.
Contoh:
Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.
Alternatif jawaban :
Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )
2. Skala Guttman
Skala guttman yaitu skala yang mengiginkan tipe jawan tegas, seperti jawaban benar salah,ya – tidak, pernah – tidak pernah,positif- negatif, tinggi –rendah, baik –buruk, dan seterusnya.pada skala Guttman ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju.selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman dapat juga dibuat dalam bentuk daftar checklist.
3. Semantik Differensial
Skala differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala mantik differensial adalah data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
4. Rating Scale
Data –data skala yang diperoleh melaui tiga macam skala diatas adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale,data yang diperoleh adalh data kuanitatif(angka) yakng kemudian ditafsirkan dalm pengertian kualitatif. Skala ini lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan,kemampuan,dan lain-lain.
5. Skala Thurstone
Skala thurstone ialah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pertanyaan yang relevan dengan variabel yang hendak diukurkemudian sejumlah ahli (20-40) orang yang menilai relevansi pertanyaan itu dengan konten atau konstruk variabel yang hendak diukur. Nilai 1 pada skala diatas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.    

7.       Daftar Cek (Check List)
Daftar cek adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Daftar cek dapat memungkinkan guru sebagai penilai mencatat tiap-tiap kejadian yang betapapun kecilnya, tetapi dianggap penting. Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam daftar cek, kemudian tinggal memberikan tanda centang ( ˅ ) pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil penilaiannya.[17]
8.       Sosiometri
Salah satu cara untuk megetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya, adalah teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri dapat diketahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain.
Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa dikelas tersebut untuk memilih satu  atau dua temanya  yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam memilih kesempatan tersebut agar tidak ada siswa yang berusaha melakukan kompromi untuk saling memilih supaya pilihan tersebut bersifat netral, tidak diatur sebelumnya. Tulislah nama pilihan tersebut pada kertas kecil, kemudian digulung dan dikumpulkan oleh guru, setelah seluruhnya terkumpul guru mengolahnya dengan dua cara. Cara pertama melukiskan  alur-alur pilihan dari setiap siswa dalam bentuk diagram sehingga terlihat hubungan antar siswa berdasarkan pilihanya, dengan hasil pilihan tersebut dinamakan sosiogram.[18]
Dengan demikian, hasil dari sosiometri dapat dijadikan bahan bagi guru dalam mempelajari para siswanya terutama dalam menganalisis sebab-sebab seorang siswa termasuk kedalam siswa yang disenangi, atau sebaliknya menjadi yang terisolasi. Dengan perkataan lain sosiometri dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam menemukan kasus-kasus siswa disekolah dilihat dari hubungan sosialnya, dan dijadikan alat untuk melengkapi data mengenai perkembangan siswa.
Langkah yang ditempuh guru dalam sosiometri ada 3 yaitu:
a.       Pemilihan teman
Disini guru menyuruh semua murid untuk memilih teman-temannya yang disenangi secara berurutan sebanyak satu atau dua anak. Dalam memilih anak perlu disebutkan alasan mengapaharus memilih teman itu. Contoh: Nama : Tono  Kelas : III A Teman yang saya pilih:
o   Candra Karena aktif belajar dan pandai
o   Sumarsono Karena tegas dalam berbicara
o   Nunung Karena penurut 
b.      Langkah pembuatan table
Guru membuat tabel dalam materi tes sosiomentri dari data yang telah diperoleh dalam langkah pemilihan teman.
c.       Langkah Pembuatan Gambar (Sosiogram)
Dari data yang telah kita buat dalam metrik sosiometri, dapat pula kita buat sebuah peta atau sosiogram. Dalam pembuatan sosiogram usahakan anak yang paling banyak dipilih diletakan ditengah-tengah, agar dapat mudah diketahui siapa yang paling banyak dipilih. Dengan melihat hasil sosiometri kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan dan relasisosial dari masing-masing anak dalam kelompok. Sehingga hasil dari sosiogram ini dapatdibuat pertimbangan untuk menilai sikap sosial anak dan kepribadiannya dalam kelompok.
Sosiometri sebagai alat penilaian nontes sangat berguna bagi guru dalam beberapa hal, antara lain:
Ø  Untuk pembentukan kelompok dalam menentukan kelompok kerja (pembagian tugas)
Ø  Untuk pengarahan dinamika kelompok
Ø  Untuk memperbaiki hubungan individu dalam kelompok dan memberi bimbingan kepadasetiap anak  
9.       Skala Penilaian
Dalam daftar cek, penilai hanya dapat mencatat hanya dapat mencatat ada tidaknya variabel tingkah laku tertentu, sedangkan dalam skala penilaian fenomena-fenoma yang akan dinilai itu disusun dalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan. Jadi, tidak hanya mengukur secara mutlak ada atau tidaknya variabel tertentu tetapi lebih jauh mengukur bagaimana intensitas gejala yang ingin diukur. Pencatatan melalui daftar cek termasuk pencatatan yang kasar. Fenomena-fenomena hanya dicatat ada atau tidak. Hal ini agak kurang realistik. Perilaku manusia, baik yang berwujud sikap jiwa, aktivitas, maupun prestasi belajar timbul dalam tingkat-tingkat tertentu. Oleh karena itu, unutk mengukur hal-hal tersebut ada baiknya digunakan skala penilaian.
Namun demikian, skala penilaian juga mempunyai kelemahan antara lain : hallo effects, generosity effects, dan cary over effects.
Hallo effects, yaitu kelemahan yang akan timbul jika dalam pencatatan observasi terpikat oleh kesan-kesan umum yang baik pada peserta didik sementara ia tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu. Misalnya, seorang guru terkesan oleh sopan santun dari peserta didik sehingga memberikan nilai tinggi pada segi-segi yang lain, padahal mungkin peserta didik tersebut tidak demikian adanya. Bisa juga guru terkesan dengan model berpakaian atau penampilan umum peserta didik. Begitu juga sebaliknya, seorang guru mungkin memberikan nilai yang rendah, karena peserta didik kurang sopan dan tidak berpakaian rapih.
Generosity effects, yaitu kelemahan yang akan muncul bila ada keinginan untuk berbuat baik. Misalnya, seorang guru dalam keadaan ragu-ragu maka ia cenderung akan memberikan nilai yang tinggi.
Carry over effects, yaitu kelemahan yang akan muncul jika guru tidak dapat memisahkan suatu fenomena dengan fenomena yang lain. Jika fenomena yang muncul dinialai baik, maka fenomena yang lain akan dinilai baik pula.

10.   Catatan Insidental (Anecdotal Records)
Catatan insidental merupakan catatan-catatan tentang peristiwa sepintas yang dialamipeserta didik secara peerseorangan. Catatan tersebut belum berarti apa-apa terhadap penilaian sesorang, namun dapat menjadi petunjuk yang berguna apabila dihubungkaan dengan data-data.


11.   Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian hampir serupa dengan  tes kepribadian. Bedanya, pada inventori, jawaban peserta didik tidak memakai kriteria benar-salah. Semua peserta didik adalah benar selama dia menyatakan yang sesungguhnya. Walaupun demikian, dipergunakan pula skala-skala tertentu untuk kuantifikasi jawaban sehingga dapat dibandingkan dengan kelompoknya. Aspek-aspek kepribadian yang biasanya dapat diketahui melalaui inventori ini, seperti sikap, minat, sifat-sifat kepemimpinan, dan dominasi.[19]

E.       Contoh-Contoh Non Tes
1.       Contoh Instrumen Observasi
Mata pelajaran             :PKN
Kelas/Semester            :IV/Genap
Indikator                     :Mengindahkan kepentingan orang lain
No
Perilaku yang diamati
Hasil pengamatan
1
2
3
4
5
1
Mengganggu teman di kelas
2
Kataatan peserta didik terhadap peraturan sekolah
3
Menunaikan tugas kelompok
Keterangan
1 = tidak pernah
2 = jarang
3 = kadang-kadang
4 = sering
5 = selalu

2.       Contoh Instrumen Wawancara
Tujuan                  :Memperoleh informasi mengenai cara belajar siswa dirumah
            Bentuk                      :Bebas
            Responden               :Siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi
            Nama siswa     :……………….
            Kelas               :……………….
            Jenis kelamin   :……………….

Pertanyaan
Jawaban siswa
Komentar dan kesimpulan hasil wawancara
1.       Kapan dan berapa lama anda belajar dirumah?
2.       Bagaimana anda mempersiapkan diri untuk balajar secara efektif?
3.       Seandainya anda mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, usaha apa yang anda lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?

3.       Contoh Instrumen Angket
Contoh angket dalam bentuk pilihan ganda untuk mengetahui hasil belajar ranah afektif
1.    Dalam melaksankan ibadah sholat sekarang ini, saya merasa:
a.     masih sulit untuk memusatkan diri
b.     dapat berkonsentrasi tetapi mudah sekali pudar
c.      tidak begitu sulit untuk berlkonsentrasi
d.     mudah untuk melakukan pemusatan perhatian
e.     senang karena dapat berdialog dengan Allah
Contoh angket dalam bentuk likert dalam rangka mengungkap hasil belajar ranah afektif
1.    Hidup manusia di dunia ini selalu diwarnai  oleh silih bergantinya suasana sedih dan gembira. Suasana sedih dan gembira itu sebenarnya merupakan ujian dari Allah bagi umatNya. Terhadap pernyataan tersebut, saya:
a.     sangat setuju
b.     setuju
c.      ragu-ragu
d.     tidak setuju
e.     sangat tidak setuju
4.       Contoh Instrumen Skala Sikap
Contoh sikap peserta didik terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia
No
Pernyataan
SS
S
TT
TS
STS
01
Saya mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran Bahasa Indonesia di kelas.
02
Saya berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia.
03
Saya suka menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
04
Saya tertarik dengan artikel yang berhubungan dangan budaya Indonesia.
05
Saya memperkaya materi dari guru bahasa Indonesia dan membaca buku-buku sumber sebagai penunjang.
06
Saya senang mengerjakan tugas pelajaran Bahasa Indonesia di rumah.
07
Dst.

5.       Contoh Instrumen Daftar Cek
Daftar cek tentang keaktifan peserta didik dalam diskusi kelompok pada mata pelajaran PAI
Contoh :
No
Nama siswa
SB
B
C
K
SK
1
Alifah
2
Elin Roslina
3
Dania
4
Farhan
5
Husein
Keterangan :
SB :  Sangat Baik                                      K: Kurang            
B   : Baik                                                      SK: Sangat Kurang
C   : Cukup

6.       Contoh Instrumen Skala Penilaian
No
TP
J
KK
SR
SL
1
Sopan santun
2
Tolong menolong
3
Bersikap ramah
4
pemberani
5
Pengganggu teman
6
peramah
7
egois
8
agresif

Keterangan:
TP           : Tidak Pernah                                   SR           : Sering
J              : Jarang                                 SL            : Selalu
KK           : Kadang-Kadang
7.       Contoh Catatan Insidental
Catatan Insidental biasanya berbunyi :
a.       Tanggal 23 Februari 2008, Gita menangis sendiri dibelakang sekolah. Tanpa sebab
b.      Tanggal 21 April 2008 Gita berkelahi dengan Galih karena Gita berkata “Galih anakm pungut”
c.       Tanggal 16 Mei 2001 Gita berkelahi dengan Gina, karena menuduh Gina mencuri uang Gita
d.      Dan sebagainya
Catatan insidental semacam ini mungkin belum berarti apa-apa bagi keperluan penilaian Gita, tetapi setelah dihubungkan dengan data-data yang lain sering kali memberikan petunjuk yang berguna. Catatan ini dapat dibuat dibuku khusus atau pada kartu-kartu kecil, sehingga memudahkan dalam penafsirannya.


Contoh : Kartu Catatan Insidental
Hari / tanggal / bulan / tahun : Rabu, 21 April 2008
Nama peserta didik                : Gita
Nama SD / Kelas                   : SD Negeri II Palembang / kelas V
Nama observer                       : Anggi
Tempat observasi                   : di dalam kelas
Catatan : peristiwa : Gita berkelahi dengan Galih, karena Gita berkata : Galih anak pungut. Kesimpulan sementara : Gita membuat orang tidak senang.

F.       Indikator Keberhasilan Non Tes



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penilaian non test adalah sebagai teknik  penilaian yang dilakukan tanpa menggunakan tes. Sehingga teknik ini dilakukan lewat pengamatan secara teliti dan tanpa menguji peserta didik. Non tes biasanya dilakukan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skill, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari apa yang diketahui atau dipahaminya. Dengan kata lain, instrument ini berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pada pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati dengan panca indra.
Bermacam-macam jenis penilaian bentuk non tes bentuk tulis dalam rangka menilai keberhasilan belajar siswa. Diantara non tes bentuk tulis adalah pengamatan (observation), wawancara (interview), angket (questioner), dan pemeriksaan dokumen (documentary analysis), skala sikap (attitude scale), daftar cek (check list), skala penilaian, studi kasus (case study), catatan insidental (anecdotal records), sosiometri, dan inventori kepribadian, Instrumen Penilaian yang dikembangkan perlu memperhatikan hal-hal berikut: Berhubungan dengan kondisi pembelajaran di kelas dan/atau di luar kelas, relevan dengan proses pembelajaran, materi, kompetensi dan kegiatan pembelajaran, menuntut kemampuan berpikir berjenjang, berkesinambungan, dan bermakna dengan mengacu pada aspek berpikir Taksonomi Bloom (aspek kognitif, afektif dan psikomotor), mengembangkan kemampuan berpikir kritis seperti: mendeskripsikan, menganalisis, menarik kesimpulan, menilai, melakukan penelitian, memecahkan masalah, mengukur berbagai kemampuan yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik dan mengikuti kaidah penulisan soal.










DAFTAR PUSTAKA
,
Arifin, Zainal, Evaluasi Pembelajaran (Prinsip, Teknik, Prosedur), (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2011
Bahri, Syaiful, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Djaali dan  Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan , Jakarta: PT Grasindo,  2008
Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009
Sujana, Djuju, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995
Widyoko, S. Eko Putro, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Didik, Yogyakarta: Pustaka Belajar: 2009
               




[2] Djuju Sujana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h.173
[3] S. Eko Putro Widyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Didik, (Yogyakarta: Pustaka Belajar: 2009), h. 104
[4] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h. 76
[5] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran (Prinsip, Teknik, Prosedur), (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2011, h. 159
[7] Zainal Arifin, ), h. 153
[8] Zainal Arifin, h. 158
[10] Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), hlm. 220
[11] Zainal Arifin, h. 156
[14] Anas Sudijono, h. 90
[16] Djaali dan  Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan , Jakarta: PT Grasindo, 2008, hlm. 28-30
[18] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995) 94-95
Share this post :

Posting Komentar

Postingan Populer

Arsip Blog

Total Tayangan Halaman

 
Support : dzulAceh | DownloadRPP | Abiba Smart
Copyright © 2023. Hanya Guru Biasa - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by Guru Biasa
Proudly powered by Blogger