Assalamu'alaikum...

Modus Pemurtadan di Sekolah Non Muslim

Kasus Albertus Soegijapranata SJ menunjukkan kristenisasi melalui jalur pendidikan sudah ada sejak lama


Modus Pemurtadan di Sekolah Non Muslim
Albertus Soegijapranata SJ. Awalnya taat Islam dan berubah memilih Kristen setelah sekolah di Kolese Xaverius Muntilan
(Halaman 1 dari 2)
Oleh: Ahmad Antawirya
BELUM lama ini jagat televisi Indonesia diramaikan berita artis Asmirandah yang telah murtad(pindah agama) mengikuti jejak suaminya, Jonas Rivanno. Murtadnya Asmirandah pertama kali tercium pers tatkala beredar foto mirip mereka berdua sedang ikut kebaktian di sebuah gereja.
Kasus Jonas ini sempat memancing emosi masyarakat Indonesia. Maklum, sebelumnya, Jonas mengaku telah menjadi muallaf (memeluk Islam) saat menikahi Asmirandah. Namun, kabar itu diralatnya sendiri dengan mengatakan, dirinya pernah menjadi muallaf (masuk Islam) pada 22 Agustus lalu, namun kembali ke agama lamanya.
Fenomena Asmirandah dan Jonas ini membuktikan kepada kita bahwa ‘kristenisasi’ terselubung melalui jalan pernikahan memang ada.
Selain melalui pernikahan, kasus seperti ini juga muncul di dunia pendidikan. Di mana ada fenomena terselubung menjadikan seseorang keluar dari agama melalui jalur pendidikan.
Tidak sedikit kaum Muslim korban pemurtadan dilatari oleh kesalahan orangtua mereka menyekolahkan atau menguliahkan anaknya di sekolah atau di kampus milik non-Muslim.
Padahal di institusi umum atau negeri yang Muslimnya lebih banyak saja, kasus pemurtadan tidak sedikit ditemui.
Kasus orang Muslim menjadi Kristen melalui pendidikan bukan kasus sedikit. Adalah Albertus Soegijapranata atau akrab dipanggil Soegija, seorang uskup pribumi pertama di Hindia Belanda (dan Indonesia sekarang).
Meski memiliki latar belakang keluarga kiai (dari kakeknya yang bernama Kiai Soepa seorang kiai yang cukup terkenal di Yogyakarta) Soegija yang awalnya dikenal taat Islam justru berubah memilih Kristen setelah ia sekolah di Kolese Xaverius Muntilan.
Bahkan belakangan,  Albertus Soegijapranata SJ (dari sejak ditahbiskan hingga berakhirnya perang kemerdekaan Indonesia) ia dianggap tokoh penting era keemasan kegiatan missionarisme di Indonesia.
Kasus Soegija mebuktikan kasus kristenisasi jalur pendidikan juga kuat.
Karena itu ketika Februari 2013 ramai enam sekolah Katolik Blitar (di antaranya Sekolah Dasar Yos Sudarso, Sekolah Menengah Pertama Yos Sudarso, Sekolah Menengah Pertama Yohanes Gabriel, Sekolah Menengah Kejuruan Santo Yusuf dan Sekolah Menengah Atas Katolik Diponegoro) menolak desakan menyediakan guru agama non Katolik di sekolahnya (meski 60 % siswanya adalah dari keluarga non Katolik) cukup bisa dipahami.
Mereka bahkan menyatakan sejak dulu mereka tidak menyediakan guru agama non Katolik. “Para pendahulu kami mendirikan sekolah itu memang untuk anak-anak Katolik,” kata Koordinator Staf Yayasan Yoga Blitar, Yohanes. (Lihat Koran Tempo, 4 Februari 2013).*/bersambung ke tulisan kedua
Hidayatullah.com
Share this post :

Posting Komentar

Postingan Populer

Arsip Blog

Total Tayangan Halaman

 
Support : dzulAceh | DownloadRPP | Abiba Smart
Copyright © 2023. Hanya Guru Biasa - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by Guru Biasa
Proudly powered by Blogger