Seringkali kita tidak sadar banyak bertanya kepada anak kita sesuatu yang amat tidak disukainya.
"Kamu sudah mengerjakan PR mu nak?"
"Kamu sudah belajar untuk ulangan besok nak,"
Sepertinya dua pertanyaan di atas adalah kebutuhan anak ya? Padahal itu adalah kebutuhan kita sebagai ortunya. Kita ingin anak kita selesai mengerjakan PR biar apa? Biar ortunya ngga malu kan. Masa anak kita dimarahi guru gara2 PR-nya ngga kelar. Malu kan sebagai ortu. Atau masa nilainya jeblok gara-gara ngga belajar saat mau ulangan. Malu kan ortunya.....
Begitulah yang sering terjadi. Kita hanya peduli kebutuhan kita sebagai orangtua anak. Tapi lupa bertanya kebutuhan atau kondisi dia sehari-hari.
Kenapa kita jarang bertanya:
"Bagaimana perasaanmu hari ini sayang? Apakah hari-harimu menyenangkan?"
"Kamu tampak murung hari ini sayang, ada yang bisa abi/umi bantu ?
"Apakah kelas baru-mu bikin kamu senang sayang? Bagaimana teman-temanmu?
Kadang yang bikin anak jutek dan ngga mau curhat sama ortunya ya karena jenis pertanyaan kita yang sering terasa menginterogasi dia. Kita tanpa sadar menyudutkan atau langsung menghakimi anak kita tanpa mau tau apa latar belakang kejadiannya.
Pantas saja jika anak maunya curhat dengan yang lain. Meski akhirnya teman curhatnya adalah sang predator, seorang Pedofil pemangsa anak.
Ayo saatnya memperbaiki kualitas komunikasi kita sebagai ortu. Baca buku tentang komunikasi efektif dan penghambat komunikasi. Dan jangan lupa ajarkan nilai nilai kebenaran sedini mungkin. Karena mendidik di masa kanak-kanak amat berbekas hingga dewasa. Begitu pula jika kita salah didik. Na'udzubillah.


Posting Komentar