Assalamu'alaikum...

Nasib Makam Arie Hanggara 'Si Korban Ibu Tiri'

Poster Film Arie Hanggara
Poster Film Arie Hanggara
 Masih ingatkah anda dengan kasus Arie Hanggara? Untuk anda yang lahir sebelum tahun 1980-an, tentu masih membekas film tentang Arie Hanggara. Arie adalah seorang anak berusia tujuh tahun yang mendapatkan penyiksaan dari ayah kandung dan ibu tirinya. Penyiksaan yang ia dapatkan adalah hukuman fisik dan pukulan-pukulan serta ancaman.

Kasus ini terjadi pada 1984 dan menjadi headline hampir seluruh media massa di Indonesia, saat itu. Bahkan ketika itu, produser film mengangkat kisahnya ke layar lebar dengan judul Arie Hanggara, setahun setelah kejadian.

“Maafkan mama, maafkan papa,” begitulah tulisan yang tercantum di sisi kanan dan kiri sebuah makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Makam berhiaskan batu marmer yang terletak di salah satu sudut TPU ini ditumbuhi oleh sekumpulan rumput liar yang sudah memanjang. Di muka nisan samar-samar terlihat tulisan yang sudah memudar, Arie Hanggara Machtino, lahir 21 Desember 1977, wafat 8 November 1984.

“Makam Arie sudah enam tahun tidak ada yang membayar pajaknya,” ujar Sofyan, petugas Administrasi di TPU Jeruk Purut.

Ia mengatakan, sudah mencoba menghubungi pihak keluarga Arie terkait perpanjangan pajak makam. Namun sampai saat ini tidak ada tanggapan dari keluarganya sejak perpanjangan makam 2008 lalu.

Menurut penjelasannya, makam Arie sudah masuk dalam daftar makam yang berhak digantikan oleh makam baru karena pajak makam yang belum terbayar. Namun, kata dia, hal itu belum perlu dilakukan karena saat ini masih tersedia cukup lahan di bagian bawah TPU Jeruk Purut.

“Kasihan dia, sudah meninggal di siksa orang tuanya, saat ini pajak makamnya pun terbengkalai,” ucap Sofyan.

Mumu, seorang petugas makam mengatakan sudah lama keluarga Arie tidak berziarah ke makam almarhum. Terakhir kali seingatnya, pada awal tahun 2000 ada seorang wanita yang mengaku ibu kandung Arie beserta anak laki-lakinya berziarah ke sana.


ROL mencoba menghubungi keluarga Arie yang beralamat di Pengadegan Timur, Kalibata, dan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Namun, tak ada keluarganya yang bisa dihubungi. Beberapa warga sekitar menjelaskan, keluarga Arie sudah pindah. Namun mereka tak mengetahui kepindahan keluarga Arie.

Salah satu saksi hidup atas peristiwa yang terjadi pada 1984 itu adalah Maryati. Warga asli TPU Jeruk purut ini mengaku bahwa pada saat pristiwa terjadi dirinya masih duduk di bangku SMP. Menurutnya, saat itu media massa berlomba-lomba memberitakan pristiwa besar tersebut, seluruh headline surat kabar menampilkan kisah Arie, bocah malang yang harus menjadi korban penganiayaan.

“Saya sedih kalo inget kisah itu, miris banget,” tutur Maryati. Menurut kesaksiannya, Arie di aniaya oleh ibu tiri dan bapaknya secara bergantian. Arie sering ditampar dan dipukul oleh mereka jika Arie berbuat nakal. 

Menurut keterangannya, Arie kecil tinggal di daerah Jalan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Arie tinggal bersama ayah, ibu tiri dan dua saudara laki-lakinya. Ibu kandung Arie yang bernama Dahlia telah bercerai dengan suaminya ketika Arie masih sangat kecil.

Maryati menjelaskan, selain hukuman fisik, Arie juga sering di beri hukuman membersihkan kamar mandi oleh ayahnya. Hukuman yang diberikan pada Arie bukan hanya itu, dengan menghadap ke tembok Arie di beri pukulan di pipi, kaki, tangan, pinggang, pinggul dan kepala.

Arie akhirnya meninggal pada 8 November 1984 akibat kekerasan fisik tersebut. “Bapak sama ibu tirinya waktu itu langsung dipenjara, waktu pemakamannya aja di kawal polisi. Tapi saya nggak tau mereka di penjara berapa tahun,” pungkas Maryati.
ROL
Share this post :

Posting Komentar

Postingan Populer

Arsip Blog

Total Tayangan Halaman

 
Support : dzulAceh | DownloadRPP | Abiba Smart
Copyright © 2023. Hanya Guru Biasa - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by Guru Biasa
Proudly powered by Blogger