
Oleh : Lilis Holisah, Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Ma’had al-Abqary Serang-Banten
DEMAM Piala Dunia menggejala di seantero penjuru negeri. Hampir seluruh negara di dunia menyaksikan permainan sepak bola yang konon diklaim sebagai permainan rakyat yang paling popular sejagat ini. Piala Dunia yang digelar 4 tahunan ini menyedot perhatian manusia tanpa kenal usia, pekerjaan, status sosial, dan jabatan. Tua-muda, anak-anak, remaja, dewasa, pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, guru, PNS, tumpah ruah menyambut Piala Dunia.
Piala dunia 2014 digelar di Brazil selama sebulan, mulai 12 Juni hingga 13 Juli 2014, perhatian warga dunia akan beralih ke Brasil. Berdasarkan penelitian FIFA yang dirilis satu tahun setelah Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, menyebutkan, 909 juta penonton menyaksikan TV setidaknya satu menit di rumah pada final 2010.
Selain itu, lebih dari 3,2 miliar orang menonton liputan langsung dari turnamen 2010 selama satu menit. Rata-rata adalah 188,4 juta penonton untuk setiap pertandingan.
Piala Dunia juga selalu mendatangkan potensi bisnis besar. Dalam sejarah, miliaran dolar mengalir dari bisnis yang dihasilkan Piala Dunia. Dikutip dari laman Forbes, Senin 9 Juni 2014, Piala Dunia Brasil diperkirakan menghasilkan US$4 miliar pada total pendapatan FIFA. Nilai itu meningkat sekitar 66 persen dibanding turnamen sebelumnya di Afrika Selatan pada 2010.
Sebagian besar pendapatan diperoleh dari penjualan hak siar televisi dan pemasaran. Piala Dunia diketahui menghasilkan lebih banyak pendapatan dibandingkan turnamen olahraga lainnya.
Di Balik Gemerlap Piala Dunia
Di balik gemerlapnya pesta olahraga 4 tahunan tersebut, ternyata Brazil dihantui oleh sejumlah permasalahan yang membelit, termasuk wabah demam berdarah. Risiko wabah demam berdarah yang cukup serius membuat pemerintah menetapkan status siaga di tiga dari 12 kota yang menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola terbesar di dunia tersebut. Brasil dikenal sebagai negara dengan kasus demam berdarah yang tinggi di dunia. Lebih dari 7 juta orang menderita penyakit ini pada 2000 hingga 2013.
Sementara masyarakat Brasil dari berbagai kalangan, seperti anggota polisi, supir bis, petugas museum, guru, bahkan ahli geologi melakukan demonstrasi besar-besaran menolak penyelenggaraan Piala Dunia di Negara tersebut. Mereka kecewa karena pemerintah bisa menghabiskan begitu banyak dana untuk persiapan Piala Dunia, padahal kemiskinan di Brasil masih merajalela. Mereka menginginkan pemerintah bisa menyejahterakan hidup masyarakat. Para demonstran menilai bahwa Piala Dunia ini tidak memberikan keuntungan apa pun bagi masyarakat.
Kebijakan pemerintah Brazil yang lebih mengedepankan Piala Dunia ketimbang mengurusi rakyatnya sungguh sangat miris. Piala Dunia yang menghabiskan dana banyak lebih diprioritaskan ketimbang mengatasi kemiskinan di negeri tersebut.
Untuk menyelenggarakan Piala Dunia di Brazil, tidak sedikit dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah Brazil. Para pengamat menilai bahwa penyelenggaraan Piala Dunia dinilai membebani biaya infrastruktur negara penyelenggara/tuan rumah. Pasalnya, sejak Olimpiade Barcelona tahun 1992, seluruh pesta olahraga internasional menggunakan gold standard dalam pembangunan fasilitas.
Para ekonom olahraga Brazil mengestimasi negeri samba tersebut mengeluarkan biaya hingga US$11,3 miliar untuk pesta 4 tahunan ini, dan merupakan biaya tertinggi yang pernah dikeluarkan untuk penyelenggaraan Piala Dunia.
Tak heran, menjelang penyelenggaraan piala dunia, timbul berbagai reaksi dari publik Brazil. Jutaan masyarakat Brazil turun ke jalan, memprotes pemerintah yang dinilai momfokuskan diri pada Piala Dunia, namun aktivitas pelayanan publik semakin tidak layak, seperti kesehatan (kasus demam berdarah yang menimpa Brazil).
YA, gemerlap Piala Dunia berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat Brazil yang diliputi kemiskinan di sana sini. Adalah sebuah kedzaliman ketika penguasa lebih memilih permainan yang melenakan dan mengandung judi ketimbang memilih mengurusi rakyat. Inilah realitas sebuah negara dimana aturan yang diterapkan dalam kehidupan adalah aturan buatan manusia.
Aturan yang dilahirkan dari realitas dan rasionalitas akal manusia ternyata tidak mampu menjangkau hakikat terbaik bagi kehidupan umat manusia. Terbukti dengan banyaknya penguasa yang lebih memilih kesenangan yang melenakan serta menyengsarakan kehidupan manusia lainnya, ketimbang melaksanakan amanah yang sudah dibebankan di pundaknya untuk mengurusi rakyat.
Ideologi kapitalisme yang saat ini banyak diterapkan oleh negara-negra di dunia, termasuk dunia Islam, telah mengakibatkan kerusakan sistemik. Kerusakan yang terjadi hampir di semua lini kehidupan. Persoalan pendidikan yang carut marut, kesehatan, ekonomi yang labil, kehidupan sosial yang kacau, politik yang pragmatis oportunis.
Kapitalisasi yang Tak Terhindarkan
Ideologi kapitalisme telah melahirkan kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin. Kemiskinan yang lahir dari penerapan ideologi kapitalisme telah membuat banyak kalangan gerah dengan kondisi tersebut.
Ideologi Kapitalisme merupakan hasil perseteruan antara kaum gerejawan di satu sisi dan kaum cendekiawan dan filosof di sisi lain. Perseteruan tersebut dimenangkan oleh kaum cendekiawan dan filosof dimana mereka menyatakan bahwa rasio manusia dapat menerangkan segala sesuatu secara komprehensif yang kemudian melahirkan pendapat bahwa manusia sendirilah yang berhak membuat peraturan hidupnya dan mempertahankan kebebasan manusia dalam hal kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan individu dan kebebasan hak milik. Dari kebebasan hak milik inilah dihasilkan sistem ekonomi kapitalisme, dimana kapitalisasi menjadi corak yang paling menonjol dalam sistem ekonomi ini.
Maka tak heran, dalam ideologi kapitalisme semua aset dikapitalisasi demi meraup keuntungan. Sumber daya air di kapitalisasi, barang tambang dikapitalisasi, minyak dan gas bumi dikapitalisasi, pendidikan dan kesehatan, dan sepak bola pun akhirnya dikapitalisasi.
Kapitalisme sama sekali tidak mengindahkan kesejahteraan sosial, kepentingan bersama, kepemilikan bersama ataupun yang semacamnya. Maka, meski Brazil sedang mengalami musibah demam berdarah dan rakyatnya dihantui kemiskinan, pemerintahnya seakan menutup mata dan Piala Dunia itu pun tetap bergulir, meski mendapat penolakan yang cukup keras dari rakyatnya.
Tegakkan Khilafah
Secara politik sistem Khilafah didedikasikan untuk melayani kepentingan masyarakat. Sebab, hakikat dari politik Islam adalah ri’ayah su’un al-ummah (pengurusan urusan umat) yang didasarkan pada syariah Islam. Karena itu, penguasa dalam Islam bagaikan penggembala (ra’in) dan pelayan umat (khadim al-ummah).
Dalam Islam penguasa hadir untuk menerapkan hukum-hukum Islam; memastikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok setiap individu masyarakat seperti pangan, sandang dan papan; menjamin pendidikan yang bermutu tinggi dan kesehatan yang layak untuk masyarakat secara gratis; memastikan hukum tegak dan keamaan rakyat terjaga.
Prinsip kedaulatan di tangan syariah akan menjamin pelayanan masyarakat ini berjalan baik karena masyarakat diurus berdasarkan syariah Islam. Kedaulatan syariah ini akan menutup intervensi manusia untuk membuat kebijakan hukum maupun politik yang didasarkan pada kepentingan kelompok, hawa nafsu, atau kekuatan modalnya seperti dalam sistem demokrasi yang meletakkan kedaulatan di tangan manusia.
Islam yang diterapkan dalam sebuah negara Khilafah Islamiyah akan mengatur permasalahan ekonomi umat. Sistem ekonomi negara Khilafah dibangun atas pondasi akidah Islam.
Secara ekonomi, kebijakan yang dijalankan Khilafah adalah memenuhi kebutuhan pokok setiap individu rakyat (sandang, pangan dan papan). Rakyat didorong untuk bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Kalau belum terpenuhi, keluarganya wajib membantu. Kalau masih belum cukup, negara akan turun tangan. Tidak boleh ada individu rakyat yang mati kelaparan, atau hidup dalam kedingingan karena tidak memiliki pakaian dan rumah.
Khilafah adalah model terbaik negara yang menyejahterakan. Wa Allahu ‘alam. []
Posting Komentar