
PERASAAN manusia terdiri dari bidang-bidang utama dari ruhnya. Ini, pada gilirannya, membentuk watak dan kepribadiannya serta pola tingkah lakunya. Moralitas yang selalu menjadifokus Islam dan agama-agama lain serta filsafat, adalah bentuk sempurna dari perasaan-perasaan ini. Penilaian penting dan keputusan orang lain pada dirinya, semuanya bergantung pada perilaku yang berakar dari watak-watak semacam ini.
Banyak perasaan manusia yang memerlukan pelatihan, pengembangan, dan perbaikan. Sebagian dari pelatihan ini harus dijalani oleh manusia dan ketetapan hatinya selama masa penyempurnaan spiritual di sepanjang hidupnya. Landasan dasarnya harus dikembangkan selama masa kanak-kanak dipangkuan orang tuanya, khususnya sang ibu. Jika tidak, ketika tumbuh dewasa ia akan menghadapi berbagai pengaruh buruk dan merusak yang akan mengarahkannya kepada rusaknya perasaan-perasaan ini. Akibatnya secara mental orang-orang sakit akan bertambah di dalam masyarakat.
Pangkuan ibu adalah sekolah pertama “Madrasatul Ula” bagi sang anak. Dalam sekolah ini anak tidak hanya belajar bahasa, berbicara dan bagaimana berjalan, tetapi juga landasan mentalnya dan aspek-aspek spiritualnya diarahkan di sini. Di sinilah watak dasar sang anak dibentuk. Kemudian, bahkan pendidikan sang ibu akan mengesampingkan atau menolak pendidikan yang diterima di sekolah, di masyarakat dan bahkan dari ayahnya yang berusaha mempengaruhi atau memprkuatnya.
Seorang bayi mempelajari pelajaran pertama hidupnya dengan melihat ibunya. Pengaruh dari pendidikan sang ibu, yang paling penting adalah peniruan secara tidak langsung oleh si anak, peniruan alamiah atau pengaruh si ibu pada fitrah anak yang tersembunyi akan lebih melekat pada anak-anak perempuan. Itulah kenapa dikatakan bahwa “Anak perempuan tumbuh menjadi seperti ibu mereka.” Kjika kita ingat bahwa peranan masa depan anak perempuan ini adalah menjadi ibu-ibu hari esok, yang memiliki efek progresif dari pengaruh ini, menjadi jelas.
Secara alamiah ibu-ibu yang tidak menjalani pendidikan yang benar dalam moralitas akan memiliki efek-efek yang merusak pada diri si anak. Akibatnya masyarakat dan manusia akan mengalami kerugian, yang menjadilebih berbahaya ketimbang tidak menjadi makhluk tak terdidik.
- Ada beberapa keterampilan sosial emosional yang perlu dilatihkan dalam rangka melejitkan potensi akademisnya, diantaranya:
o Mengenali dan memahami perasaan orang lain
o Secara tepat mampu membaca dan memahami kondisi emosi orang lain
o Mengatasi emosi negatif dan dapat mengungkapkan emosi dengan eara
konstruktjf
o Mengendalikan perilaku diri
o Mengembangkan empati
o Membangun dan mempertahanican pertemanan atau persahabatan
Setiap keterampilan berkembang sesual dengan waktunya, tapi satu keterampilan dibangun dari keterampilan sebelumnya. Misalnya anak pernah belajar memahami dan mengenali perasaarrnya sendiri, dan secara bertahap belajar untuk menghubungkan dan mengasosiasikan nama perasaan dengan perasaannya, belajar bahwa orang lain juga punya perasaan dan mulai berempati dengan perasaan orang lain. Dengan bertarnbahnya usia, anak belajar memanajemeni perasaannya, mengatasi rasa cemas, takut, sedih atau frustrasi dan belajar menunda pemuasan segera dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya.
Semua keterampilan ini membantu anak mampu mengendalikan dirinya sehingga ketika sudah dewasa misalnya keterampilan ini dapat membantu seorang “salesman” untuk memahami pembeli potensial dan ekspresi wajah dan bahasa tubulmya, mendorong atlit untuk bertahan sampai mendapatkan medali emas, membantu istri atau suami memahami atau empati dengan perasaan pasangannya sehingga mampu menahan din untuk tidak beradu argumen atau membantu menjadi wanga negara yang baik dan menahan diri untuk tidak melukai saat merasa terganggu dengan perilaku tetangganya. [santi/islampos/mukjizat do’a ibu]
Posting Komentar