Jokowi (Foto: Aktual.co/Istimewa)
Jakarta, Aktual.co — Politisi PDI-P, Pupung Suharis mengaku kecewa dengan penampilan calon presiden partainya, Joko Widodo.
Pengakuan
Pupung itu, dikatakannya saat melihat Jokowi tegang dan grogi pada
waktu pengambilan nomor urut di gedung KPU dan, pada saat deklarasi
kampanye damai di Hotel Bidakara, Jakarta, beberapa hari lalu.
"Dalam
dua kali penampilannya, Jokowi tampak tegang, pidatonya pendek dan
kering. Banyolan dia yang mengajak memilih nomor dua, malah jadi masalah
di Bawaslu. Sekarang dia sudah keteter dan trendnya menurun. Banyak
yang bilang sama saya, Jokowi akan makin keteter lagi saat debat capres
mendatang," kata Pupung kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/6).
Pupung
yang pernah duduk di Komisi III dan Komisi I DPR itu berpesan kepada
Jokowi-JK, kalau kampanye tidak usah mendiskreditkan pihak lain.
Misalnya, ketika kampanye perdana di Papua, Jokowi menyindir pihak lain.
Dikatakan,
dalam berita di media on line yang dia baca, Jokowi bilang, kalau yang
lain atau yang di sana, kampanyenya di dalam hotel, sedangkan dirinya
memilih kampanye di kampung karena Jokowi merasa jadi miliknya rakyat
atau orang kampung.
"Yang kayak gitu nggak baik
dan nggak perlu. Lebih baik sampaikan program-program yang pro rakyat,
itu lebih berguna daripada energi dihabiskan untuk menyindir orang. Masa
jauh-jauh dari Jakarta ke Papua, hanya ngrasani orang, itu bukan leader
yang baik,’’ kata Pupung Suharis.
Pupung
mengingatkan, seorang calon presiden dan pemimpin bangsa itu harus
menunjukkan sikap kenegarawanan. Kalau mencela pihak lain, itu bukan
negarawan, itu pemimpin cengeng, tapi egonya besar. Menurut dia, rakyat
tidak senang dengan hal-hal seperti itu. Rakyat yang sudah cerdas,
tidak tertarik oleh perilaku elit yang suka menjelek-jelekkan pihak
lain.
"Rakyat ingin tahu kelas atau level
capresnya itu seperti apa? Rakyat ingin tahu program yang dimiliki dan
akan dijalankan capresnya seperti apa. Itu yang ditunggu rakyat,’’
ujarnya.
Tokoh nasionalis dari Jateng ini
mengingatkan, pemimpin itu harus amanah. Kalau diberi tugas menjadi
pejabat negara selama lima tahun, pasti dijalankan dengan baik, tidak
diputus di tengah jalan secara sepihak. Kalau amanah belum dijalankan
sampai tuntas tapi sudah menggapai jabatan yang lain, itu kebiasaan
jelek. Itu tanda-tanda orang yang ambisius dan mementingkan diri
sendiri.
"Pemimpin tak boleh begitu. Pemimpin harus komit, sikapnya harus konsiten, tidak boleh mencla-mencle,’’ pinta Pupung.
Terakhir,
Pupung membeberkan hasil safarinya setelah berkeliling ke daerah Jawa
Tengah. Kata dia, hasilnya cukup mengagetkan, yakni posisi Jokowi makin
keteter. Prabowo Subianto makin populer ketimbang Jokowi.
"Saya
baru saja keliling Jawa Tengah. Saya kaget juga karena capres partai
saya yakni Jokowi makin keteter, untuk sementara ini rakyat lebih
condong ke Prabowo, popularitasnya makin tinggi. Saya jadi kasihan sama
Bu Mega. Saya akan kirim surat ke DPP PDI-P soal situasi lapangan yang
saya singgahi," kata Pupung Suharis.
Nebby Mahbubirrahman
actual.co
Posting Komentar