Oleh : Cahyadi Takariawan
Ketika anggota legislatif terdiri dari
orang-orang yang tidak memiliki komitmen dan keberpihakan kepada nilai-nilai
kebajikan, maka akan sangat banyak produk perundangan dan peraturan yang tidak
bersesuaian atau bahkan bertentangan dengan tujuan dakwah. Dengan alasan
demokrasi dan demokratisasi, keputusan yang terjadi banyak mengarah kepada kegiatan yang tak berwawasan moral. Dengan
tiadanya wakil dari kalangan aktivis dakwah, tak ada pihak yang akan
memperjuangkan aspirasi keislaman dan keumatan.
Memasukkan Dakwah di Parlemen
Apabila kita tidak ingin proses
pengambilan keputusan di Dewan Perwakilan Rakyat didominasi oleh kepentingan-kepentingan
yang tak berpihak pada nilai kebaikan, maka memasukkan aktivis dakwah menjadi
anggota parlemen adalah sebuah tuntutan tak terelakkan. Keberadaan aktivis
dakwah di parlemen adalah sebagai upaya positif untuk menjaga tersalurkannya
misi dakwah Islam dalam kegiatan legislasi di parlemen.
Akan tetapi, untuk bisa memasukkan
aktivis dakwah ke gedung parlemen memerlukan cara dan sarana. Cara yang
digunakan harus konstitusional, yaitu melalui Pemilihan Umum. Sedangkan untuk bisa
mengikuti Pemilihan Umum agar bisa memasukkan wakil ke parlemen, harus
menggunakan sarana berupa partai politik. Dengan demikian, partai politik
semata-mata sarana atau alat, dan bukan tujuan. Pemilu adalah cara atau metoda
untuk mencapai sasaran perluasan medan dakwah di parlemen.
Dengan cara pandang seperti ini,
melakukan usaha untuk memperbanyak jumlah suara atau pemilih dalam Pemilihan
Umum, merupakan sebuah cara untuk mendapatkan porsi kursi yang lebih banyak
pula di parlemen. Dengan semakin banyak jatah kursi, artinya semakin banyak
pula juru dakwah diutus melakukan dakwah di gedung parlemen untuk mengemban
misi perbaikan sistem dari dalam dan menjaga keterpenuhan aspirasi rakyat.
Cara pandang ini menolak pandangan
skeptis dan pragmatis dari masyarakat yang sering menganggap melakukan kampanye
dan pendekatan publik menjelang Pemilihan Umum semata-mata alat untuk
mendapatkan jatah kursi, tanpa ada muatan misi yang amat ideologis di dalamnya.
Sementara kalangan menganggap kegiatan "berebut suara" dalam
Pemilihan Umum adalah tindakan pragmatis, padahal bagi partai dakwah, hal
tersebut berkaitan dengan seberapa banyak pengemban misi dakwah bisa
mendapatkan kesempatan melakukan dakwah lewat kursi parlemen.
Semakin sedikit jumlah aktivis
dakwah bisa dikirim ke parlemen, semakin
kecil pula peluang untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Demikian pula
sebaliknya, semakin banyak jumlah aktivis dakwah duduk di kursi parlemen,
semakin kokoh posisi pengemban misi dakwah Islam untuk bersuara dan melakukan
perbaikan. Oleh karenanya, tidak ada kata lain, kecuali harus dikatakan bahwa
melakukan kampanye dan mengikuti Pemilihan Umum adalah bagian utuh dari proses
dakwah Islamiyah.
Membangun Komunikasi Politik
Melalui wadah partai politik yang
dibentuknya., gerakan dakwah bisa mengefektifkan komunikasi politik dengan
banyak pihak. Dalam konteks sistem multipartai, maka partai dakwah harus
mengawali proses komunikasi politik dengan partai-partai Islam yang ada, juga
dengan berbagai partai lainnya. Komunikasi politik dengan sesama partai Islam
bertujuan untuk menyamakan visi bagi kemenangan umat Islam, serta menyepakati
langkah-langkah strategis untuk memperjuangkan aspirasi Islam.
Bisa dibuat sebuah wadah yang
semipermanen, seperti forum komunikasi antara partai Islam, untuk lebih
menguatkan jalinan komunikasi dan informasi dan menghindarkan kemungkinan
friksi yang semestinya tak perlu terjadi. Sedangkan komunikasi politik dengan
partai-partai pada umumnya dilaksanakan dalam rangka memperkecil kemungkinan
permusuhan terhadap partai dakwah di satu sisi, namun juga memperbesar peluang
kesamaan agenda aksi yang mungkin untuk dipertemukan pada sisi yang lain.
Selain dengan partai-partai politik,
komunikasi juga dilakukan dengan berbagai pihak baik lembaga maupun tokoh-tokoh
masyarakat yang memiliki pengaruh luas, dalam rangka membina relasi dan semakin
mendekatkan mereka dengan gerakan dakwah, juga mencoba mencari titik-titik temu
yang bisa ditindaklanjuti dalam langkah-langkah aksi.
Mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa
menguatkan langkah-langkah kaki kita untuk menghantarkan gerakan menuju
kemenangan dakwah Islam. Aamiin.
Posting Komentar