Ketika suatu siang yang terik, di bulan Ramadhan, kulihat sesosok ditangga masjid sedang khusyuk tilawah, takjauh dari itu, gerobak sayur menunggu, ditengah rehatnya, ternyata dia bercengkrama dengan Rabbnya, tak banyak yang seperti itu.
Hingga suatu siang di lain waktu, aku berkesempatan diwawancarainya…
Percakapan kecil siang itu, selalu kuingat, dan kuabadikan didalam tulisan kecil ini, betapa kadang sebagian dari mereka ada yang bersungguh-sungguh berjuang mendekat dan mencari keridhoanNya, dengan upayanya belajar Al Qur an, tentang kalamNya yang juga termasuk kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Al qur an.
Meski menurut pandangan kita strata sosial, kesibukan didunia tidak menyandang gelar sarjana, master, bahkan doktor sekalipun, tapi orang-orang seperti mas-mas “tukang sayur” inilah yang dibanggakan Allah di hadapan makhluknya di langit.
Seperti dalam sebuah hadits Imam Muslim “Tidaklah suatu kaum berkumpul disatu masjid dari masjid-masjid Allah, kemudian mereka membaca Al Qur an dan mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketentraman, diliputi dengan rahmat, dinaungi oleh malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah dihadapan makhluk-Nya”.
Pantas saja, mas tukang sayur ini, jika aku lihat sangat qonaah, tenang, dia menikmati sekali pekerjaannya, tukang sayur yang guru Al Qur an pejuang kebangkitan ummat.
Semenjak peristiwa itu, aku tak pernah menawar dagangannya, jika dia mengatakan harga tertentu aku ikut saja. Bahkan aku salut, dia sangat jujur, jika sayuran yang dijualnya memang tidak bagus selalu bilang apa adanya, juga masalah harga.
Semoga Allah memberkahinya, juga siapa saja yang seperti dia “Tukang Sayur Pecinta Al Qur an”.
Kisah nyata ini ditulis :
Anindya Sugiyarto

Posting Komentar