Assalamu'alaikum...

Dialog Telanjang Antara Dokter dan Wartawan





Saat Aksi Solidaritas Dokter Indonesia di Bundaran HI, tanggal 27 November 2013, saya ketemu dengan teman lama saat masih mahasiswa. Kebetulan dulu kami aktif di organisasi kemahasiswaan yang sama saat masih di Medan, Sumatera Utara. Tapi sekarang dia sudah menjadi wartawan di media cetak terkenal. Kira-kira seperti ini dialog saya dengannya. Saya adalah DOKTER, teman saya adalah WARTAWAN.
WARTAWAN : “Hallo, pak dokter !”
DOKTER : “Eh, ente rupanya. Ngapain ente di sini..?”
WARTAWAN : “Gimana sih pak Dokter ini. Kami juga praktek seperti Dokter. Tapi kami tidak mengobati pasien, tapi mencari berita, hehee”
DOKTER : “Dah menjadi wartawan terkenal ente rupanya sekarang ya. Bagus-baguslah buat berita. Dukung aksi solidaritas kami hari ini. Cocok ente rasa…?”
WARTAWAN : “Hahaha, bisa kita aturlah… Koq bukan pak Dokter yang menjadi orator demo, bukannya waktu mahasiswa dulu, pak Dokter suka jadi orator demo ?”
DOKTER : “Hmm, mungkin di sini kesamaan kehadiran kita. Sudah banyak yang menjadi orator, Jadi peran kita ya provokator aja, hehe..”
WARTAWAN : “Hahahaha, itu yang ku suka dari pak Dokter…”
DOKTER : “Btw, kenapa media selalu saja memojokkan profesi dokter dan banyak memberitakan informasi yang tidak benar tentang dokter Ayu, dan kawan-kawan ?”
WARTAWAN : “Informasi yang benar tentang profesi dokter itu tidak ‘seksi’ bagi kami dan membuat media tidak laku dijual di masyarakat”
DOKTER : “Apa kriteria ‘seksi’, dan ‘tidak seksi’ bagi media ?”
WARTAWAN : “Batasan ‘seksi’ itu, kalau beritanya bisa ‘menelanjangi’ seseorang atau sekelompok orang sehingga, mohon maaf pak Dokter, tampaklah bagian ‘kemaluan’nya, hihihi”
DOKTER : “Kalau itu batasannya, apa yang membuat media dan wartawan sangat tertarik ‘menelanjangi’ profesi dokter ?”
WARTAWAN : “Dokter itu mempunyai wajah pekerjaan yang sangat ‘cantik’. Apalagi kalau tampak bagian ‘kemaluan’nya, sungguh indah kan, hahaha”
DOKTER : “Hmm, faktanya media tak memberitakan ‘kemaluan’ profesi dokter yang sebenarnya. Wartawan kan tahu, bagaimana ‘bentuk kemaluan’ profesi dokter yang sebenarnya. Menurut ente, mengapa ?”
WARTAWAN : “Karena saat media berhasil ‘menelanjangi’ dan melihat ‘kemaluan’ profesi dokter, tercium ‘bagian belakang’ profesi dokter yang juga bau busuk seperti profesi atau jabatan lainnya… maaf ya pak dokter”
DOKTER : “Gak apa-apa, santai aja”
WARTAWAN : “Saat tercium ‘bagian belakang’ profesi dokter itu, akhirnya media memberitakan bahwa ada kotoran yang tersimpan di dalam ‘perut’ profesi dokter”
DOKTER : “Nah lho, kotorannya kan belum terlihat ? Akhirnya yang diberitakan media itu adalah opini, bukan fakta. Kebanyakan media tak memberitakan ‘kemaluan’ profesi dokter, apalagi kecantikan ‘wajah’ profesi dokter, seperti yang ente analogikan tadi”
WARTAWAN : “Hmm”
DOKTER : “Sebenarnya yang diberitakan itu kan masih ‘bau busuk’ bagian belakang profesi dokter saja. Belum tentu benar ada di dalam ‘perut’ profesi dokter. Koq sudah diberitakan oleh media seakan-akan sudah melihat ‘sumber bau’nya ?”
WARTAWAN : “Berita yang ‘seksi’ itu bukan hanya dari apa yang terlihat, tapi apa yang tercium, hehehe”
DOKTER : “Jadi bagaimana saran ente sebagai wartawan kepada kami, agar ‘bagian belakang’ profesi dokter itu tidak bau busuk ?”
WARTAWAN : “Ya, profesi dokter harus banyak-banyaklah pakai minyak wangi… hihihi”
DOKTER : “Minyak wangi? Apa maksudnya? Hmm… Minyak wangi yang bagaimana agar berita tentang profesi dokter menjadi lebih ‘seksi’ seperti yang terlihat dan tercium sebenarnya?”
WARTAWAN : “Nah, pertanyaan ini yang ditunggu-tunggu media, pak dokter… Minyak wanginya ada dijual di media itu sendiri. Jenisnya berbeda-beda. Harganya juga bervariasi”
DOKTER : “Maksud ente, kami harus membeli minyak wangi kepada media? Hmm, nauzubillah ente…. DOKTER LAGI MOGOK, WARTAWAN MALAH SUKA SOGOK… Ente jual minyak wangi semahal apapun, gak bisa menghilangkan bau busuk yang ada di bagian belakang profesi wartawan juga. Jangan bilang, kalau ‘bagian belakang’ profesi wartawan adalah yang terwangi?”
WARTAWAN : “hahaha, jangan marah pak Dokter”
DOKTER : “Apakah semua media menjual minyak wangi?”
WARTAWAN : “Tentu tidak… Media-media yang tidak menyinggung hal-hal yang ‘porno’, ‘telanjang’, ‘kemaluan’ dan sejenisnya yang banyak disukai masyarakat, biasanya tidak menjual minyak wangi”
DOKTER : “Oh ya ?”
WARTAWAN : “Sangat sedikit media yang mau menutupi aurat sehingga mencerdaskan. Sebagian besar sangat senang menelanjangi sehingga membodohi”
DOKTER : “Oh, begitu ya?”
WARTAWAN : “Kalau ada media cetak dan elektronik yang suka memberitakan perselingkuhan, pemerkosaan, bentuk tubuh artis seksi, tips-tips hubungan intim, biasanya media tersebut mempekerjakan wartawan yang suka jual minyak wangi”
DOKTER : “Okelah kalau begitu, mudah-mudahan ente bekerja di media cetak yang gak pakai jual minyak wangi. Aku lanjut ikut aksi dulu. Sampai ketemu lain kali ya…”
WARTAWAN : “Oke pak dokter. Lanjutkan perjuangan ya…”
Demikian dialog singkat saya dengan teman saya tersebut. Kepada teman saya yang wartawan, mohon maaf kalau saya menulis dialog ini. Tidak ada ‘transaksi’ minyak wangi antara kita berdua. Mudah-mudahan kita adalah PROVOKATOR YANG MENCERDASKAN BANGSA. Amiin…. MERDEKA !!!

Rizky Adriansyah, Kompasiana
Share this post :

Posting Komentar

Postingan Populer

Arsip Blog

Total Tayangan Halaman

 
Support : dzulAceh | DownloadRPP | Abiba Smart
Copyright © 2023. Hanya Guru Biasa - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by Guru Biasa
Proudly powered by Blogger