
SASTRAWAN Arswendo Atmowiloto melihat pemilu dari kacamata berbeda. Pria kelahiran Solo ini melihat pemilu tak ubahnya seperti hajatan pernikahan. Kiasan ini, menurut Arswendo, diambil karena agak sulit menyikapi pemilu sekarang ini dengan serius.
Menurut Arswendo, sebagaimana hajatan pernikahan, pemilu saat ini membuat berbagai golongan masyarakat sibuk. Sayangnya hiruk pikuk kesibukan ini hanya dinikmati oleh pihak-pihak tertentu
“Yang seneng kan cuma ‘pengantin’nya saja,” ujarnya dalam acara diskusi bulanan Institute Peradaban di Tebet, Jakarta. Rabu (27/03).
Sebagai sosok yang aktif di media, Arswendo mempertanyakan sistem perpolitikan kita yang aneh. Dia mencontohkan ketidakmampuan masyarakat untuk memecat anggota legislatif pilihan mereka yang kinerjanya mengecewakan.
“Mandat menjabat itu dari rakyat, tapi kalau rakyat kecewa mau mecat, mesti nunggu lima tahun lagi. Rakyatnya keburu lupa.” Ungkapnya.
Melihat fenomena sosok Jokowi, Arswendo menilai tidak ada yang spesial. Sebagai pemilih Jokowi saat Pilkada Jakarta, Arswendo mengaku alasannya memilih Jokowi lantaran menurutnya Foke itu jelek.
“Jokowi hebatnya apa? Jokowi itu biasa saja, dia menang karena lawannya jelek. Kalau waktu itu Foke bener-bener ngurusin Jakarta, Jokowi ga mungkin kepilih,” paparnya. [eza/Islampos]
Posting Komentar