Wikipedia.org

Ilustrasi
Oleh: Ani Nursalikah
Tentara Ottoman secara teratur menggunakan senjata dan meriam pada 1421-1422.
Bubuk mesiu tiba di Timur Tengah, mungkin melalui India dari Cina. Para ahli kimia Arab mengenal potassium nitrat sejak masa ilmuwan Khalid bin Yazid. Potassium nitrat digunakan sebagai campuran pembuatan bubuk mesiu.
Selama berabad-abad potassium nitrat dikenal dengan berbagai nama, di antaranya natrun, buraq, bihi al-ha’it, shura, shuraj, milh al-dabbaghin, (penyamak garam), shabb Yamani dan barud.
Potassium nitrat digunakan sebagai fluks dalam operasi metalurgi. Selain itu, juga digunakan untuk memproduksi asam nitrat dan aqua regia. Resep untuk campuran tersebut bisa ditemukan dalam karya Jabir bin Hayyan dan Abu Bakr al-Razi.
Meski bangsa Cina adalah yang pertama menemukan bubuk mesiu dan memakainya dalam kembang api, bangsa Arab yang menemukan mesiu yang dapat dimurnikan. Hal ini tersirat dari penggunaan istilah oleh Hasan al-Rammah yang menunjukkan dari mana mesiu berasal.
Mesiu disebut dengan ‘salju Tionghoa’, kembang api disebut dengan ‘bunga Cina’ dan roket sebagai ‘panah Cina’. Hasil pemurnian itu digunakan dalam bidang militer.
Agar dapat digunakan secara efektif dalam mesiu, potassium nitrat harus dimurnikan. Ada dua proses yang ditemukan dalam literatur Arab. Pertama, proses yang diperkenalkan Ibnu Bakhtawayh pada awal abad ke-11. Ia menggambarkan air bisa dibekukan dalam setiap musim dengan menggunakan shabb Yamani (potassium nitrat).
Pada abad ke-13 atau 1270, al- Rammah dari Suriah menjelaskan proses lengkap pemurnian potassium nitrat dalam bukunya Al-furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Kitab Militer dan Alat Perang Cerdik). “Ambil barud yang putih dan bersih sebanyak yang disukai dan siapkan dua guci tanah liat."
"Masukkan barud dan air, kemudian panaskan dengan api kecil. Buang buih yang muncul. Panaskan terus hingga berubah menjadi cairan bening. Kemudian, tuangkan cairan bening ke dalam tabung lain sedemikian rupa sehingga tidak ada sedimen atau ampas yang terbawa."
"Panaskan lagi dengan api kecil sampai mengental. Setelah itu digiling sampai halus,” tulis al-Rammah dalam bukunya.
Tentara Ottoman secara teratur menggunakan senjata dan meriam pada 1421-1422.
Bubuk mesiu tiba di Timur Tengah, mungkin melalui India dari Cina. Para ahli kimia Arab mengenal potassium nitrat sejak masa ilmuwan Khalid bin Yazid. Potassium nitrat digunakan sebagai campuran pembuatan bubuk mesiu.
Selama berabad-abad potassium nitrat dikenal dengan berbagai nama, di antaranya natrun, buraq, bihi al-ha’it, shura, shuraj, milh al-dabbaghin, (penyamak garam), shabb Yamani dan barud.
Potassium nitrat digunakan sebagai fluks dalam operasi metalurgi. Selain itu, juga digunakan untuk memproduksi asam nitrat dan aqua regia. Resep untuk campuran tersebut bisa ditemukan dalam karya Jabir bin Hayyan dan Abu Bakr al-Razi.
Meski bangsa Cina adalah yang pertama menemukan bubuk mesiu dan memakainya dalam kembang api, bangsa Arab yang menemukan mesiu yang dapat dimurnikan. Hal ini tersirat dari penggunaan istilah oleh Hasan al-Rammah yang menunjukkan dari mana mesiu berasal.
Mesiu disebut dengan ‘salju Tionghoa’, kembang api disebut dengan ‘bunga Cina’ dan roket sebagai ‘panah Cina’. Hasil pemurnian itu digunakan dalam bidang militer.
Agar dapat digunakan secara efektif dalam mesiu, potassium nitrat harus dimurnikan. Ada dua proses yang ditemukan dalam literatur Arab. Pertama, proses yang diperkenalkan Ibnu Bakhtawayh pada awal abad ke-11. Ia menggambarkan air bisa dibekukan dalam setiap musim dengan menggunakan shabb Yamani (potassium nitrat).
Pada abad ke-13 atau 1270, al- Rammah dari Suriah menjelaskan proses lengkap pemurnian potassium nitrat dalam bukunya Al-furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Kitab Militer dan Alat Perang Cerdik). “Ambil barud yang putih dan bersih sebanyak yang disukai dan siapkan dua guci tanah liat."
"Masukkan barud dan air, kemudian panaskan dengan api kecil. Buang buih yang muncul. Panaskan terus hingga berubah menjadi cairan bening. Kemudian, tuangkan cairan bening ke dalam tabung lain sedemikian rupa sehingga tidak ada sedimen atau ampas yang terbawa."
"Panaskan lagi dengan api kecil sampai mengental. Setelah itu digiling sampai halus,” tulis al-Rammah dalam bukunya.
Al-Rammah menulis mengenai bubuk mesiu dan penggunaannya secara ekstensif dalam bukunya. Buku itu diperkirakan ditulis antara tahun 1270 dan 1280.
Halaman depan menyatakan buku itu ditulis sebagai petunjuk dan merupakan warisan dari ayahnya, kakeknya, dan pendahulunya para ahli di bidang tersebut sejak abad ke-12.
Buku itu adalah pengetahuan yang ia kumpulkan. Buku ini berisi 107 resep membuat mesiu dan 22 resep membuat roket. Penggunaannya untuk keperluan militer dan kembang api.
Komposisi ideal mesiu peledak di zaman modern terdiri atas 75 persen potassium nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen karbon. Komposisi tersebut identik dengan komposisi untuk membuat roket yang di sampaikan al-Rammah. Komposisi bu buk mesiu peledak belum diketahui di Cina dan Eropa hingga abad ke-14.
Catatam Prancis pada abad pertengahan menunjukkan tentara Muslim juga menggunakan bahan peledak dalam Perang Salib melawan tentara Keenam yang dipimpin Ludwig IV, Landgrave dari Thuringia di abad ke-13. Penemuan Muslim tersebut membuat gentar tentara Salib.
Tayyar atau roket terdiri atas 75 persen potassium nitrat, delapan persen sulfur, dan 15 persen karbon. Sedangkan untuk membuat roket dengan api digunakan campuran 74 persen potassium nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen karbon.
Pada abad ke 14 saat Dinasti Mamluk berkuasa di Suriah dan Mesir atau 1340, Ibnu al- Fadlullah Umari menulis sebuah buku pegangan bagi pejabat pemerintah. Dalam bukunya ia menggambarkan senjata utama yang bisa dipakai untuk menyerang dan mempertahankan kota.
Ia menjelaskan tentang meriam yang dapat digunakan menyerang kota-kota bertembok. Meriam dikembangkan selama empat abad berbarengan dengan trebuchet (alat pelontar).
Halaman depan menyatakan buku itu ditulis sebagai petunjuk dan merupakan warisan dari ayahnya, kakeknya, dan pendahulunya para ahli di bidang tersebut sejak abad ke-12.
Buku itu adalah pengetahuan yang ia kumpulkan. Buku ini berisi 107 resep membuat mesiu dan 22 resep membuat roket. Penggunaannya untuk keperluan militer dan kembang api.
Komposisi ideal mesiu peledak di zaman modern terdiri atas 75 persen potassium nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen karbon. Komposisi tersebut identik dengan komposisi untuk membuat roket yang di sampaikan al-Rammah. Komposisi bu buk mesiu peledak belum diketahui di Cina dan Eropa hingga abad ke-14.
Catatam Prancis pada abad pertengahan menunjukkan tentara Muslim juga menggunakan bahan peledak dalam Perang Salib melawan tentara Keenam yang dipimpin Ludwig IV, Landgrave dari Thuringia di abad ke-13. Penemuan Muslim tersebut membuat gentar tentara Salib.
Tayyar atau roket terdiri atas 75 persen potassium nitrat, delapan persen sulfur, dan 15 persen karbon. Sedangkan untuk membuat roket dengan api digunakan campuran 74 persen potassium nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen karbon.
Pada abad ke 14 saat Dinasti Mamluk berkuasa di Suriah dan Mesir atau 1340, Ibnu al- Fadlullah Umari menulis sebuah buku pegangan bagi pejabat pemerintah. Dalam bukunya ia menggambarkan senjata utama yang bisa dipakai untuk menyerang dan mempertahankan kota.
Ia menjelaskan tentang meriam yang dapat digunakan menyerang kota-kota bertembok. Meriam dikembangkan selama empat abad berbarengan dengan trebuchet (alat pelontar).
Sejarawan Salih ibn Yahya menjelaskan, pada 1342 Kota al-Karak diserang dengan lima trebuchet dan banyak meriam. Dilaporkan juga pada 1352 gubernur Damaskus meletakkan meriam di atas benteng yang dibangunnya.
rol
Posting Komentar