Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggelar pertemuan komunitas untuk menggalang kepedulian akan tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam. Pertemuan yang digagas ACT ini membawa payung besar Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI). Sejumlah komunitas hadir bersumbang gagasan dan menyatakan komitmennya.
Fatma Muhammad, Ketua Pelaksana acara ini mengatakan, wujud keprihatinan akan kondisi umat Islam yang didera berbagai gejolak dan tragedi kemanusiaan. “Kami ingin menghimpun berbagai komunitas agar bisa bersatu padu dan berkontribusi membantu penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia,” kata Fatma.
Keragaman komunitas yang hadir, diharapkan menguatkan simpul-simpul dukungan khalayak. “Besar harapan kami, karena sudah hadir representasi komunitas seperti One Day One Juz (ODOJ) yang punya member puluhan ribu orang, My Quran sebuah forum dialog yang bahkan diikuti bukan hanya muslim juga yang nonmuslim, Lembaga Silaturahim Dakwah Kampus (LSDK), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Islam Tanpa JIL (ITJ), Komunitas Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, Komunitas Mahasiswa Syariah Economic and Banking Institute (SEBI), dan lain-lain,” ujar Fatma.
Fatma menjelaskan, bukan kebetulan, komunitas yang berkesempatan hadir kali ini, semuanya elemen kaum muda. “Ini bagian dari ikhtiar membangun kesadaran kolektif kaum muda. Kendati perang yang mematikan banyak nyawa, termasuk korban terbesarnya umat Islam, sudah mengglobal, dari Indonesia kami menabuh genderang kepedulian, bukan genderang perang. Pertemuan ini insyaAllah akan bergulir, memaksa banyak hati mengumbar kemanusiaannya, menaklukkan ego dan menjadi manusia yang menghargai kehidupan,” tegas Fatma.
Vice President ACT Ibnu Khajar menegaskan, setiap hari kita mendengar info bencana, Sinabung meletus, banjir melanda, belum selesai Kelud memuntahkan lahar panas, muslim Palestina dibombardir, muslim Afrika Tengah dibantai. “Kita merasa sedih, setelah beberapa kali kita mendengar kabar yang sama kita kian sedih, yang kita khawatirkan, ketika ini terus kita saksikan dan dengarkan kemudian kita merasa imun lantas biasa-biasa saja menyaksikan penderitaan yang menimpa saudara-saudara kita. Selamatkan jiwa kita dari imunitas penderitaan sesama manusia, sesama umat beriman,” kata Ibnu.
Ketika tragedi dianggap rutinitas, krisis kemanusiaan hanya difahami sebagai berita yang berganti mengisi halaman media massa, inilah bahaya sejati yang mengancam kemanusiaan. Saat itu, hanya akan ada segelintir orang, sedikit orang yang waras dan sadar untuk berbuat sesuatu, mencegah kemanusiaan tidak sirna dari hatinya, nurani kemanusiaan umat manusia tidak mati.
"Panggilan Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam, ke sana arahnya. Dan faktanya, muslimin secara global mengalamai penderitaan massif,” urai Ibnu.
Ketua Umum PP KAMMI, Andriyana mengatakan, hadirnya representasi beragam komunitas mendukung kampanye SKDI, karena panggilan jiwa sebagai muslim. “Saat umat ditekan dimana-mana, kondisi ini menjadi momentum sekaligus kewajiban untuk saling membantu,” katanya. Ia juga mengutip hadits Nabi,”Barang siapa yang tak peduli akan urusan umatku maka ia bukan umatku.”
Adriyana sepakat melibatkan KAMMI dan mendorong komunitas lainnya bisa melakukan kerja konkret demi melipatgandakan daya bantu. “Ini perlu kesolidan,” harapnya.Tak cukup mengutip hadits, Andriyana menegaskan, bukti kemusliman salah satunya diekspresikan dengan kepeduliannya terhadap sesama muslim.
Andriyana menyuguhkan perlunya mendorong gagasan solidaritas menjadi gerakan. Ia melakukan edukasi di lapangan melalui aksi dan penggalangan dana. “Kampanye di dunia maya amat potensial. Kita bisa bersama-sama menggalang para relawan digital dan menginisiasi pusat informasi. Selain itu kita bisa melakukan edukasi dan kampanye ke tengah umat Islam maupun masyarakat umum,” ujarnya. Ia menambahkan, bahwa ACT bisa menginisiasi dua hal itu. “Kami siap mendukung.”
Salah satu komunitas yang paling besar massanya dalam acara hari itu, One Day One Juz (ODOJ). “Member kami 80 ribuan. Ini komunitas yang insyaAllah mendukung gagasan mempedulikan krisis kemanusiaan di dunia Islam,” papar Haidir dari Departemen Project ODOJ yang membawahi ODOJ Peduli.
“Saya mengapresiasi pertemuan ini, dan meyakini ada kerja-kerja besar setelah ini. Perlu diingatkan pula bahwa jangan sampai kita pintar bicara, tapi miskin amal,” katanya mengingatkan. Haidir mengingatkan sosialisas perlu melibatkan lebih banyak lagi komunitas, terutama organisasi kemahasiswaan Islam lainnya.
Ricky, juga dari komunitas ODOJ mengusulkan dua hal. “Pertama, langkah riil gerakan ini perlu dilakukan, yakni membangun awareness. Kedua, mengingat besarnya komunitas social media atau dunia online di Indonesia, perlu langkah memassifkan gagasan ini di dunia maya. Sedangkan di offline bisa memanfaatkan berbagai komunitas dan organisasi lainnya.”
Ricky melengkapi usulannya, agar sosialisasi di offline meluaskan segmen yang sangat beragam di tengah masyarakat. “Dalam hal ini, ODOJ sangat antusias untuk berkolaborasi, terutama untuk agenda offline. Kami siap mengedukasi dengan isu massif yang berbeda dari isu lainnya,” katanya bersemangat.
Ungkapan tak kalah bersemangat dilontarkan Indra mewakili komunitas Indonesia Tanpa JIL. “Update informasi dunia Islam sangat diperlukan. Untuk itu perlu sinergi antar komunitas, terutama kalangan pemuda. Pandangan bahwa bangkitnya pemuda mendorong kejayaan Islam, semoga bukan wacana tapi berkelanjutan demi memperbaiki kondisi umat,” katanya.
Faisal Rahman mewakili FSLDK berpendapat,“Luar biasa pertemuan ini. Kita merasa dipersatukan dan digugah, sesuai temanya: kolaborasi. Kami berharap kekuatan umat Islam yang terpecah-belah bisa bersatu. Semoga kita semua diberi kekuatan mengatasi problem umat yang kian berat.”
Ia menambahkan, bahwa kebangkitan Islam itu pasti,tapi harus ada penggeraknya. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga upaya ini bisa istiqamah dan kita bisa menggalang kekuatan untuk membantu saudara-saudara kita.”
Semangat kolaborasi kemanusiaan, berpadu motif spiritual, semoga menjadi kekuatan hebat memenangkan kemanusiaan di atas angkara dan nafsu saling menghancurkan di seluruh belahan dunia.[act/Islamedia/YL]
Fatma Muhammad, Ketua Pelaksana acara ini mengatakan, wujud keprihatinan akan kondisi umat Islam yang didera berbagai gejolak dan tragedi kemanusiaan. “Kami ingin menghimpun berbagai komunitas agar bisa bersatu padu dan berkontribusi membantu penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia,” kata Fatma.
Keragaman komunitas yang hadir, diharapkan menguatkan simpul-simpul dukungan khalayak. “Besar harapan kami, karena sudah hadir representasi komunitas seperti One Day One Juz (ODOJ) yang punya member puluhan ribu orang, My Quran sebuah forum dialog yang bahkan diikuti bukan hanya muslim juga yang nonmuslim, Lembaga Silaturahim Dakwah Kampus (LSDK), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Islam Tanpa JIL (ITJ), Komunitas Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, Komunitas Mahasiswa Syariah Economic and Banking Institute (SEBI), dan lain-lain,” ujar Fatma.
Fatma menjelaskan, bukan kebetulan, komunitas yang berkesempatan hadir kali ini, semuanya elemen kaum muda. “Ini bagian dari ikhtiar membangun kesadaran kolektif kaum muda. Kendati perang yang mematikan banyak nyawa, termasuk korban terbesarnya umat Islam, sudah mengglobal, dari Indonesia kami menabuh genderang kepedulian, bukan genderang perang. Pertemuan ini insyaAllah akan bergulir, memaksa banyak hati mengumbar kemanusiaannya, menaklukkan ego dan menjadi manusia yang menghargai kehidupan,” tegas Fatma.
Vice President ACT Ibnu Khajar menegaskan, setiap hari kita mendengar info bencana, Sinabung meletus, banjir melanda, belum selesai Kelud memuntahkan lahar panas, muslim Palestina dibombardir, muslim Afrika Tengah dibantai. “Kita merasa sedih, setelah beberapa kali kita mendengar kabar yang sama kita kian sedih, yang kita khawatirkan, ketika ini terus kita saksikan dan dengarkan kemudian kita merasa imun lantas biasa-biasa saja menyaksikan penderitaan yang menimpa saudara-saudara kita. Selamatkan jiwa kita dari imunitas penderitaan sesama manusia, sesama umat beriman,” kata Ibnu.
Ketika tragedi dianggap rutinitas, krisis kemanusiaan hanya difahami sebagai berita yang berganti mengisi halaman media massa, inilah bahaya sejati yang mengancam kemanusiaan. Saat itu, hanya akan ada segelintir orang, sedikit orang yang waras dan sadar untuk berbuat sesuatu, mencegah kemanusiaan tidak sirna dari hatinya, nurani kemanusiaan umat manusia tidak mati.
"Panggilan Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam, ke sana arahnya. Dan faktanya, muslimin secara global mengalamai penderitaan massif,” urai Ibnu.
Ketua Umum PP KAMMI, Andriyana mengatakan, hadirnya representasi beragam komunitas mendukung kampanye SKDI, karena panggilan jiwa sebagai muslim. “Saat umat ditekan dimana-mana, kondisi ini menjadi momentum sekaligus kewajiban untuk saling membantu,” katanya. Ia juga mengutip hadits Nabi,”Barang siapa yang tak peduli akan urusan umatku maka ia bukan umatku.”
Adriyana sepakat melibatkan KAMMI dan mendorong komunitas lainnya bisa melakukan kerja konkret demi melipatgandakan daya bantu. “Ini perlu kesolidan,” harapnya.Tak cukup mengutip hadits, Andriyana menegaskan, bukti kemusliman salah satunya diekspresikan dengan kepeduliannya terhadap sesama muslim.
Andriyana menyuguhkan perlunya mendorong gagasan solidaritas menjadi gerakan. Ia melakukan edukasi di lapangan melalui aksi dan penggalangan dana. “Kampanye di dunia maya amat potensial. Kita bisa bersama-sama menggalang para relawan digital dan menginisiasi pusat informasi. Selain itu kita bisa melakukan edukasi dan kampanye ke tengah umat Islam maupun masyarakat umum,” ujarnya. Ia menambahkan, bahwa ACT bisa menginisiasi dua hal itu. “Kami siap mendukung.”
Salah satu komunitas yang paling besar massanya dalam acara hari itu, One Day One Juz (ODOJ). “Member kami 80 ribuan. Ini komunitas yang insyaAllah mendukung gagasan mempedulikan krisis kemanusiaan di dunia Islam,” papar Haidir dari Departemen Project ODOJ yang membawahi ODOJ Peduli.
“Saya mengapresiasi pertemuan ini, dan meyakini ada kerja-kerja besar setelah ini. Perlu diingatkan pula bahwa jangan sampai kita pintar bicara, tapi miskin amal,” katanya mengingatkan. Haidir mengingatkan sosialisas perlu melibatkan lebih banyak lagi komunitas, terutama organisasi kemahasiswaan Islam lainnya.
Ricky, juga dari komunitas ODOJ mengusulkan dua hal. “Pertama, langkah riil gerakan ini perlu dilakukan, yakni membangun awareness. Kedua, mengingat besarnya komunitas social media atau dunia online di Indonesia, perlu langkah memassifkan gagasan ini di dunia maya. Sedangkan di offline bisa memanfaatkan berbagai komunitas dan organisasi lainnya.”
Ricky melengkapi usulannya, agar sosialisasi di offline meluaskan segmen yang sangat beragam di tengah masyarakat. “Dalam hal ini, ODOJ sangat antusias untuk berkolaborasi, terutama untuk agenda offline. Kami siap mengedukasi dengan isu massif yang berbeda dari isu lainnya,” katanya bersemangat.
Ungkapan tak kalah bersemangat dilontarkan Indra mewakili komunitas Indonesia Tanpa JIL. “Update informasi dunia Islam sangat diperlukan. Untuk itu perlu sinergi antar komunitas, terutama kalangan pemuda. Pandangan bahwa bangkitnya pemuda mendorong kejayaan Islam, semoga bukan wacana tapi berkelanjutan demi memperbaiki kondisi umat,” katanya.
Faisal Rahman mewakili FSLDK berpendapat,“Luar biasa pertemuan ini. Kita merasa dipersatukan dan digugah, sesuai temanya: kolaborasi. Kami berharap kekuatan umat Islam yang terpecah-belah bisa bersatu. Semoga kita semua diberi kekuatan mengatasi problem umat yang kian berat.”
Ia menambahkan, bahwa kebangkitan Islam itu pasti,tapi harus ada penggeraknya. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga upaya ini bisa istiqamah dan kita bisa menggalang kekuatan untuk membantu saudara-saudara kita.”
Semangat kolaborasi kemanusiaan, berpadu motif spiritual, semoga menjadi kekuatan hebat memenangkan kemanusiaan di atas angkara dan nafsu saling menghancurkan di seluruh belahan dunia.[act/Islamedia/YL]

Posting Komentar