Assalamu'alaikum...

Jokowi-JK, Duet ataukah ‘Duel’ Maut?

jokowi jk JK Jokowi, Duet ataukah Duel Maut?
Foto: bali.bisnis.com
TAK ada yang menyangka sama sekali jika potongan terakhir puzzle dari sosok Joko Widodo di panggung politik Indonesia ke kursi Presiden RI adalah Jusuf Kalla. Majunya JK mendampingi Jokowi di kursi RI 2 memang memenuhi prediksi, namun itu hanya berlaku tidak lebih dari setengahnya. Mengapa?
Ada beberapa hal yang mendasarinya. Yang pertama, jelas, JK adalah mantan wakil presiden pula. Dan siapapun tahu di negeri ini, JK tidak hanya duduk manis sebagai Orang Nomor 2 di pemerintahan, namun ia tak segan menjadi jenderal di lapangan. Kita tentu tidak lupa, ketika Tsunami menyapu Aceh, JK menjadi salah satu orang pertama yang menjejakkan kaki di Serambi Mekah.
Selama menjabat sebagai wakil presiden, JK selalu menjalankan amanah sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Presiden SBY. Sesuai dengan kesepakatan, JK diberi tugas-tugas yang berhubungan dengan bidang ekonomi keuangan dan industri.
Tugas ini dilaksanakan JK dengan penuh tangungjawab. Dalam melaksanakan tugas-tugas kenegaraan, sikap JK selalu didasarkan pada: fokus pada persoalan pokok dan berjangka panjang. Tidak terkungkung oleh problem kecil dan teknis. Ia juga selalu berusaha mencari terobosan di dalam menangani permasalahan (thinking out of the box). JK berpikir dan bertindak cepat dan lugas, karena masalah yang dihadapi memerlukan keputusan yang cepat (lebih cepat, lebih baik—ingatkan slogan ini 5 tahun yang lalu?).
Untuk statistik, agaknya terlalu gambling jika harus menuliskan kiprah JK sebagai wakil presiden di masa silam. Dua di antaranya adalah memerintahkan konversi minyak tanah menjadi LPG. Pertimbangannya, LPG (Elpiji) lebih bersih, lebih murah, dan lebih aman. Pemerintah mengambil kebijakan membagikan tabung 3kg dan kompor gas secara gratis kepada penduduk miskin. Konversi minyak tanah ke LPG ini segera menghilangkan subsidi minyak tanah sebesar kurang lebih Rp30 triliun s/d Rp35 triliun setiap tahun.
Di grass root, JK menghapuskan hunian kumuh dengan program pembangunan 1000 unit tower di seluruh Indonesia terutama di kota-kota besar. Pembangunan tower di kawasan industri diperuntukkan bagi karyawan yang bekerja di kawasan yang bersangkutan.
Maka tidak heran jika kemudian sebagian pihak mengernyitkan kening atas pendampingan JK pada Jokowi kali ini.
Hal kedua yang mungkin perlu kita amati adalah, hendak jadi apa duet 2J ini? Kita tentu sama mafhum juga jika Sang Gubernur DKI Jakarta sekarang ini disebut-sebut oleh media sebagai seorang jenderal lapangan pula. Berlepas dari yang diberitakan media mainstream secara berlebihan, tentu kita tidak bisa menapikan kerja Jokowi selama ini. Jokowi, tidak selamanya dan tidak serta merta dibesarkan media, namun ia juga melakukan kerja nyata dan turun ke jalan, menyatu dengan rakyatnya.
Jika keduanya berjodoh—JK dan Jokowi, dan kemudian terpilih, serta bersinergi sedemikian rupa, maka mereka akan menjadi duet hebat untuk Indonesia, dan untuk itu, yang akan paling diuntungkan dari situasi ini adalah rakyat pula. Namun, jika keduanya terancam pada streotip pemimpin 1 dan 2, dan kemudian ego lebih berbicara, maka bukan tidak mungkin pula, ini akan jadi “Duel”. Jawabannya, harus menunggu ketika pilpres digelar, mereka (mungkin) dinyatakan menang, dan menghitung 100 hari, karena entah mengapa 100 hari selalu dijadikan acuan untuk menilai presiden di negeri ini. 
Share this post :

Posting Komentar

Postingan Populer

Arsip Blog

Total Tayangan Halaman

 
Support : dzulAceh | DownloadRPP | Abiba Smart
Copyright © 2023. Hanya Guru Biasa - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by Guru Biasa
Proudly powered by Blogger