![]() |
| Taman bunga berpot cangkang granat Israel di desa Bilin, Ramallah (Foto: Mave Magz) |
“Taman yang tidak biasa itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kehidupan dapat terjadi dari sesuatu yang sudah mati,” kata pengurus desa, Mohammad Khatib, Mi’raj Islamic News Agency (MINA) memberitakan Kamis (16/10).
Desa Bilin telah menjadi simbol aksi protes warga Palestina terhadap kebijakan Israel di Tepi Barat.
Perjuangan warga desa untuk mendapatkan kembali tanah yang direbut oleh Israel juga merupakan subjek dari film dokumenter nominasi Oscar tahun lalu yang berjudul “Five Broken Cameras”.
Warga Palestina mengatakan, tembok yang memotong daerah di Tepi Barat itu bagian dari perampasan lahan. Israel berdalih, hal itu diperlukan untuk memantau penyerangan warga desa.
Taman di Desa Bilin itu memperingati wafatnya Bassem Abu Rahmeh, seorang pemimpin aksi protes terhadap tembok pemisah yang tewas pada 2009 silam, ketika dia dilempari sebuah granat dan gas air mata.
Adik dari Bassem, Jawaher, meninggal hampir dua tahun kemudian, sehari setelah melakukan aksi protes. Menurut penduduk desa, ia meninggal karena menghirup gas air mata dari israel.
Selama aksi protes di Tepi Barat, tentara Israel sering menembak gas air mata, granat kejut, peluru karet, dan terkadang langsung menggunakan peluru.
(HP/MediaIslamia.com)
![]() |
| Warga Palestina menanam bunga dalam pot cangkang granat Israel (Foto: Mave Magz) |
![]() |
| Menyiram bunga di pot cangkang granat Israel (Foto: Mave Magz) |



Posting Komentar