![]() |
| Ilustrasi Muallaf |
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisaa' [4] ayat 171)
“Ibu saya selalu menjaga saya dari hal buruk. Keluarga kami setidaknya tiga kali mengunjungi gereja,” kata Mary.
Mary lahir di Oklahoma, Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen yang taat.
Mary mengaku bangga dengan keluarganya yang mempraktekkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami diajarkan tidak mengkonsumsi alkohol, rokok, atau narkoba. Tidak dibolehkan mengumpat apalagi melakukan seks bebas,” kenangnya.
Mary sendiri hampir hapal seluruh isi Alkitab. Ia juga aktif mengisi kegiatan gereja, seperti menjadi anggota paduan suara, bermain organ dan lainnya.
Pertemuan Mary dengan Islam terjadi ketika bertemu dengan mahasiswa Muslim. Usia Mary saat itu 49 tahun. Ia pun masih menjadi pelayan gereja yang aktif. Di luar pertemuan itu, Mary memang senang membaca, utamanya terkait masalah Ketuhanan.
Lulus SMA, kabar tidak mengenakan datang dari kedua orang tuanya. Mary begitu sedih lantaran kedua orang tuanya bercerai. Untuk menghindari hal negatif karena emosinya yang labil, Mary memilih untuk bekerja dan menikah. Namun, usia pernikahannya tidak lama. Di perceraian, teman dan kolega Mary mendorongnya untuk mengikuti tes beasiswa di Universitas Tusla.
Ketika membaca sebuah buku di perpustakaan, ia menemukan sosok Muhammad. Lalu, ia mendapati ajaran Nabi Muhammad SAW yang diketahuinya bernama Islam.
“Buku itu menulisnya bukan Islam tapi Muhammadisme. Saya tidak tahu memang kalau nama agama yang dibawa Rasulullah itu Islam,” kata dia.
Selama bertahun-tahun, Mary bermasalah dengan sakit di kepalanya. Ketika sakitnya kambuh, ia merasa sedih karena tidak ada seorang pun yang mau membantunya. Mary selalu berdoa agar penyakitnya hilang. Ia baca Alkitab, tapi tetap saja rasa sakitnya tidak hilang.
Suatu hari, ketika ia berada di kampus, ia bertemu dengan mahasiswa Muslim asal Malaysia. Rasa kagum muncul dalam benak Mary ketika bertemu dengan mereka.
“Saya berpikir, agama yang mereka peluk sepertinya begitu indah. Ini bisa dilihat dari cara hidup mereka,” ucap dia.
Rasa kagum itu menjadi ketika diantara mahasiswa asal Malaysia itu ada yang mengenakan hijab. Awalnya, kekaguman Mary hanya sebatas gaya berbusana. Mary belum tahu bahwa hijab itu merupakan cara Allah melindungi Muslimah.
Suatu hari, ia bertemu dengan Amina, salah seorang Mahasiswi Muslimah berhijab dari Malaysia. Amina meminta Mary membantunya untuk mengajari menulis bahasa Inggris. Amina lalu mengajak kedua temannya Saif (Yaman), Tariq dan Khalid (Oman), dan Yousif (Uni Emirat Arab).
Saat mengajari mereka menulis bahasa Inggris, lagi-lagi muncul rasa kagum dalam diri Mary. “Mereka memiliki sopan santun. Mereka seperti dekat padahal berbeda negara,” ucapnya.
Mary pun bertanya soal agama yang dianut mereka. Lalu salah seorang dari mereka memberikan Mary Al-quran terjemahan bahasa Inggris. Ketika Mary hendak membacanya, Saif meminta Mary untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian Mary diminta menyebut nama Allah sebelum membaca Al-quran.
“Saat membacanya jujur, saya takut dan gemetar,” kata dia.
Mary mengaku terkejut ketika membaca Al-quran. Berulang kali, Al-quran menyebut kata Yesus (Isa). Dikatakan Al-Quran, Yesus itu manusia biasa yang dipilih menjadi Nabi. Bukan anak Allah yang sering ia ketahui ketika membaca Alkitab.
“Saya biasa diajarkan Yesus itu anak Allah dan ia datang ke bumi untuk menembus dosa manusia,” kenang dia.
Mary yang gundah merasa tidak sabar meminta keterangan anak didiknya yang Muslim. Ketika berada di apartemen, Mary pun memutuskan memeluk Islam. Usai bersyahadat ia lakukan sujud syukur ke arah kiblat, meski sebenarnya Mary tidak tahu dimana Mekah itu berada.
“Saya selalu menyebut nama-Mu selama bertahun-tahun, namun saya baru tahu nama Engkau adalah Allah. Saya mencoba menyembah-Mu namun dengan cara yang salah. Tapi saya tidak ingin masuk neraka karena tidak percaya Yesus seorang Nabi, saya tidak ingin masuk neraka karena tidak menyembah-Mu dengan cara yang benar. Saya ingin masuk surga ketika maut menjemput,” doa Mary.
Selesai berdoa, Mary merasa damai. Begitu damai hingga ia tertidur. Saat bangun, Mary merasa terkejut. Tidak ada lagi sakit kepala. Ia pun berterima kasih kepada yang Maha Kuasa atas kesembuhan itu.
Sejak itu, Mary mulai menutupi tubuhnya dengan pakaian yang sopan. Ia kenakan hijab. Agar merasa mantap, ia meminta anak didiknya membimbingnya menjadi Muslim dengan cara yang benar. “Lalu saya dengan terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat,” kata dia.
Usai mengucapkan syahadat, Mary didatangi banyak mahasiswa Muslim. Mereka bawa makanan, pakaian dan Al-quran. “Ya Allah, terima kasih telah membuka hati dan pikiran saya untuk Islam. Terima kasih ya Allah telah mendatangkan saya seseorang yang mengenal Islam dengan baik. Maafkan saya atas kesalahan di masa lalu. Ya Allah, bantu saya dan umat Islam untuk terus mencintai Engkau, mencintai Rasulullah, mencintai Al-quran, dan selalu menyebarkan pesan damai kepada orang lain, amin,” kata Mary.
(MediaIslamia.com dari Republika)


Posting Komentar