
HARI-hari pertama kuliah. Aku didengarkan nama-nama filsuf terkenal. Socrates, Plato dan Aristoteles.
Aku tertegun, nama-nama yang sering di dengar tapi serasa asing. Nama-nama itu bahkan sulit sekali untuk diucapkan. Apalagi teori-teorinya tengtang kejiwaan. Barat.
Namun demikian, psikologi dengan ilmu-ilmu yang dilahirkan oleh filsuf-filsuf barat adalah anugerah dari Allah SWT. Bahkan ketika ilmu itu lahir dari filsuf yang tiak bertuhan sekalipun. Karena ilmu datanganya dari Allah SWT.
Ketaqwaan kepada Allah SWT, itulah yang mesti dijunjung. Karena sebagaimana biasanya, ilmuwan barat mencetuskan teori yang diukur dari dasar realitas duniawi. Jarang mereka mencantumkan teori tentang spiritualitas.
Mereka mengatakan bahwa nafss adalah sebuah kebutuhan. Dan kebutuhan harus dipenuhi. Nafsu makan, nafsu tidur, nafsu melihat bahkan nafsu biologis sekalipun. Paham mereka adalah paham di mana nafsu harus dipenuhi. Tak ayal di negara barat tempat hiburan malam tumbuh di mana-mana.
Beda dengan agama. Allah SWT memerintahkan kita menahan nafsu. Bahkan memerintahkan para akhwat dan ikhwan yang lajang untuk puasa agar menjaga dirinya dari jeratan nafsu sahwat. Menutup aurat. Bukan memancing dan menyalurkannya dengan alasan nafsu adalah kebutuhan.
Itulah yang membuat bangsa barat sangat bobrok akhlaknya. Dan sayangnya perilaku tersebut kini mulai diikuti oleh bangsa timur, termasuk Indonesia.
Sejak zaman Rasulullah SAW, beliau telah mengajarkan cara menghormati perempuan. Memperlakukan perempuan dengan mulia. Maka perempuan mana yang tidak menangis haru mengetahui sikap Muhammad SAW terhadap perempuan.
Siapa yang lebih mengerti psikologi perempuan? Jawabannya bukan Socrates, bukan Plato, dan bukan Aristoteles. Tapi Muhammad SAW.
Mengapa demikian karena Muhammad telah terjaga oleh wahyu Allah SWT. Wahyu dari sang pencipta manusia itu sendiri.
Tidak hanya psikologi perempuan, melainkan kepemimpinan, sosial, dan lain-lain. Karena Muhammad SAW adalah sebaik-baiknya teladan umat.
Kembalilah, dan berpegang teguhlah pada wahyu Allah dan sunnah Rasulullah. Karena sekali lagi, bukan teori Socrates, bukan teori Aristoteles. Tapi keteladanan Muhammad SAW. []
Posting Komentar