
ADA kalanya saya harus bersabar saat berhadapan dengan para ikhwan di Tarbiyah yang melengos untuk menaruh minat pada soal-soal perbukuan. Pernah saya coba tawarkan buku-buku kiprah tokoh umat semisal Natsir dan Hamka, hanya itu-itu saja yang berminat. Secara umum, diam dan tidak tergerak, entah dengan sebab apa.
Padahal, ide-ide pembumian doktrin Ikhwan dalam konteks keindonesiaan sudah sering dicanangkan para asatidz dan pimpinan Tarbiyah. Entah mengapa, sekadar memberikan contoh berupa kiprah para tokoh Masyumi saja, beberapa rekan kurang berminat. Kuat dugaan, ini berkaitan dengan belum adanya instruksi dari atas. Sungguh sayang bila untuk sadar atau melek harus menantikan ‘hidayah’ bernama komando murabbi.
Ketika tidak berada di dalam kekuasaan, seyogianya aktivis dakwah dari Tarbiyah menguatkan sendiri gerakan yang selama ini rapuh. Gelombang Ketiga tidak akan tercipta dalam sejarah apabila hanya melibatkan elit partai. Gelombang yang sama juga tidak akan terhadirkan manakala fondasi keilmuan masih terabaikan. Aktivitas dasar seorang dai cuma intelektual tidak lebih baca-tulis-diskusi. Format halaqah ke depannya sudah tentu tidak sekadar berbicara soal metode dakwah (manhaj) adopsi Tarbiyah, tetapi juga bagaimana menempatkan secara pas dalam konteks gerakan oposisi cerdas.
Sering kali nama Erdogan di Turki disebut para kader Tarbiyah. Tidak salah, yang mungkin kurang adalah: apakah mereka paham bagaimana langkah demi langkah Erdogan menyusun strategi perjuangannya? Jawabannya bukan soal ya atau tidak paham, melainkan bagaimana membaca situasi di Indonesia. Dan bila bicara keindonesiaan, amat berlebihan bila aktivis Tarbiyah seolah hadir yang pertama. Sebab, sudah banyak usaha yang diikhtiarkan banyak eksponen umat; sejak era kesultanan hingga individu berkomitmen keras macam Tjokromainoto ataupun partai islamis semodel Masyumi dan PSII.
Untuk itulah, berkaca dari sejarah, paham ranah antro-sosiografis masyarakat, serta konteks global tentunya, semua ini bisa membuat Tarbiyah lebih mengakar sekaligus mengoreksi jejak perjuangan saat di dalam kekuasaan 10 tahun terakhir ini. Model kiprah yang diperbuat Muhammadiyah, NU, SI (PSII), Masyumi, PPP bahkan partai islamis era pasca-1999 bukan sebatas pengetahuan sejarah awal nan sumir bagi kader. Pun demikian bagi elit Tarbiyah yang duduk di kepengurusan partainya.
Gelombang Sejarah sejatinya menemukan momentum tepat ketika Tarbiyah berada di jangkar yang berhadapan dengan kekuasaan .Adu ide dan taktik tidak lagi sebatas di level pemerintahan vis-a-vis parlemen, melainkan juga di akar rumput. Korpus keilmuan sudaa tidak bisa lagi sebatas macan Lembang yang jago di podium dan kertas tebal platform, melainkan sudah menjadi ruh dalam setiap gerakan.
Tersilapnya oknum elit Tarbiyah yang berimbas sebagai tsunami cibiran publik hendaknya patut jadi pelajaran. Asa publik pada komponen bangsa yang baik sejatinya amatlah besar. Nah, ketika yang diharapkan menjungkirbalikkan asa tersebut, hujatan membahanalah yang ada. Orang-orang islamis baik memang di negeri ini tidak boleh berbuat salah; sekali berbuat salah, akan disapulah semua teman-temannya sebagai ‘bajingan’. Sungguh tidak adil, tapi begitulah krisis oase keteladanan di negeri ini.
Ekspresi di media sosial dari anak-anak muda ataupun asatidz Tarbiyah hanyalah cermin untuk menilai kadar kesiapan mereka berkuasa. Sejauh ini, saya menilainya masih belum, meski sebetulnya jauh lebih memadai tinimbang yang akan berkuasa lima tahun ke depan. Tapi itulah makna ‘alokasi’ kekuasaan dari langit. Boleh jadi, mereka yang dianggap ‘tidak baik’ akan lahirkan sesuatu yang akan membuka kesadaran gelap sebagian publik selama setahun terakhir ini. Mungkin penyadaran tidak melalui naiknya eksponen Tarbiyah di panggung kekuasaan, melainkan dari orang lain. Bisa jadi, naiknya eksponen dakwah malah bukan memunculkan kebaikan, tetapi justru fitnah.
Kejadian ataupun pengalaman di satu daerah dari pejabat lokal dari Tarbiyah tentu saja tidak bisa dipukul rata semuanya begitu. Baik semuanya positif ataupun negatif. Ada sisi-sisi kebaikan, selain juga kekurangan. Yang sudah tampak adalah belum adanya visi seideal sosok yang selama ini disebut kader Tarbiyah: Erdogan. Masih banyaknya orang yang menyoal perjuangan simbol yang dilakukan pemimpin dari Tarbiyah, bisa tepat namun juga bisa salah. Tinggal dilihat secara adil mana saja program yang berorientasi menshalehkan sekaligus mengenyangkan dan menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.
Yang jelas dan sukar dielakkan adalah ketika kepemimpinan dari tokoh Tarbiyah di publik sudah diterima semua kalangan, terutama dari orang-orang shaleh, berakal, dan rakyat awam yang bernurani. Betapapun media utama lawan mendengki, pesona kebaikannya tidak dapat diburamkan. Nah, semodel ini bila diperbanyak akan melahirkan tidak saja Gelombang Ketiga, melainkan juga revolusi moral dalam arti sebenarnya. []
Posting Komentar