
ADA yang menarik di halaman Harian The Jakarta Post, Jum’at (4/7). Inilah pertama kali dalam sejarahnya, koran berbahasa Inggris itu memberikan dukungannya dalam pemilu Presiden.
“Jakarta Post, dalam sejarahnya yang menginjak 31 tahun, tak pernah sekali pun menyokong salah satu kandidat dalam pemilu. Selama itu sudut pandang kami selalu jelas, kami selalu berdiri di atas kekalutan politik,” tulis JakartaPost dalam editorialnya yang diberi judul “Endorsing Jokowi”.
Dukungan Jakarta Post kepada Jokowi bukan tanpa alasan. Terkenal dengan media pengusung pluralisme, Jakarta Post merasa harus menahan laju kelompok Islam di kubu Prabowo. Koran ini melabelinya dengan “Islam Garis Keras”. Entah siapa yang dimaksud.
Jakarta Post menyebut pasangan Jokowi-Kalla merupakan pasangan yang paling memiliki kesamaan visi dengan media tersebut.
“Kami tergugah karena salah satu kandidat telah berani menolak transaksi kekuasaan berdasarkan kepercayaan politik. Dalam waktu yang sama, kami merasa takut karena kandidat lain malah merangkul kelompok Islam garis keras dalam bagiannya. Kelompok radikal tanpa toleransi, mereka yang suka menyulut isu memecah belah bangsa untuk kepentingan jangka pendek semata,” tegas Jakarta Post.
Jauh sebelum itu, Sastrawan dan jurnalis senior Tempo, Goenawan Mohamad, menegaskan bahwa media dalam pemberitaannya tidak harus netral. Hal terpenting, dia mengatakan, pemberitaan media tidak untuk memfitnah.
“Bung Karno saat menulis di Pikiran Rakyat juga tidak netral,” kata Goenawan saat memperingati Pemberedelan Tempo ke-20 di gedung Kebayoran Center, Jakarta, Selasa, 24 Juni 2014.
Dalam memihak pun, Goenawan melanjutkan, harus mempertimbangkan efektivitas pemihakan. “Kadang-kadang tergoda efek non-moral,” ujarnya. Karena itu, menurut Goenawan, profesi jurnalis lebih berat ketimbang politikus.
Meski Goenawan lebih menyoroti fitnah memfitnah dalam isu capres, tapi komentar Goen –demikian dia disapa- menyiratkan secara jelas bahwaTempo berdiri pada salah satu pihak.
Diktum media adalah tempat indepedensi dan sokoguru netralitas memang menjadi sabda yang didengungkan di kelas-kelas jurnalistik. Media digadang-gadang sebagai poros yang berpihak pada kebenaran, tanpa terjebak pada kepentingan praktis.
Tudingan dari jurnalis sekuler bahwa media Islam adalah media subjektif, tendensius, dan tidak netral, kini mesti berbalik kepada mereka. Bahwa tidak ada media yang independen. Yang ada hanyalah subjektivisme dengan klaim independensi. Dan hal itu menjadi naif.
Maka menarik mengulang kembali pernyataan wartawan senior Jakarta PostEndy Bayuni bahwa seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita.
Maka pertanyaan sama bisa kita ajukan kepada Jakarta Post: apakah mereka telah meninggalkan identitas politiknya saat menulis?
“Dengan demikian, Jakarta Post merasa wajib untuk secara terbuka mendukung Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden pada pemilihan 9 Juli 2014. Ini bukan dukungan yang enteng,” tutupJakarta Post dalam “Endorsing Jokowi”. [Pz/Islampos]
Posting Komentar